Serba Serbi

Mengenal Jenis Tarian di Bali, Tari Wali Menjadi Sakral Apabila Disucikan dengan Upacara dan Upakara

dalam gerakan itu diungkapkan rasa kejiwaan, emosional, keindahan dengan mengindahkan ritmis gerak tersebut. Sehingga terjadi pemantulan rasa dari

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Pande Putu Agus Permana
Pementasan tarian rangda dalam pertunjukan calonarang, belum lama ini. 

Namun ia tidak terbakar, bahkan tidak panas sedikitpun.

Tarian wali, juga biasanya ditarikan secara kolektif dan isinya menggugah emosional keagamaan. Bahkan mitosnya, Dewa Siwa Nataraja dalam menggerakkan alam cosmos, dengan cara menari.

Bukti bahwa tarian sudah dikenal sejak zaman dahulu, bisa terlihat dari lukisan penari di Candi Prambanan, Borobudur, dan candi lainnya.

Berdasarkan sumber literatur Agama Hindu 3 tahun 1994, disebutkan contoh tari Wali adalah, tarian rejang, pendet, baris, sanghyang, dan masih banyak lagi.

Tarian rejang merupakan simbol turunnya bidadara dan bidadari, menuntun Ida Sang Hyang Widhi Wasa turun ke dunia.

Tarian rejang pun memiliki banyak jenis, semisal tarian Rejang Renteng, Rejang Lilit, Rejang Bengkol, dan lain sebagainya.

Kemudian tarian pendet, adalah tari persembahyangan karena penarinya membawa alat-alat upacara seperti canang pasucian, pasepan, tetabuhan, dan lainnya.

Biasanya tarian ini ditarikan oleh pemuda, atau pemangku di halaman pura yang tersuci.

Lalu ada tari baris, yang melambangkan kepahlawanan. Sebab penari kerap membawa tombak, tamyang, perisai dan sebagainya. Ada banyak tarian baris, seperti Baris Gede, Baris Pendet, dan baris lainnya.

Lalu ada tarian sanghyang, yang biasanya sang penari melakukan tariannya dalam kondisi tidak sadar. Sebab dalam kondisi tran atau tidak sadar itu, penari menari di atas api dan kakinya tidak terbakar.

Baca juga: Tarian Bali dan Gamelan Hadir di KBRI Washington D.C.

Selain itu, penari lainnya menunjukkan petunjuk-petunjuk yang bersifat kerohanian, gaib, atau niskala. Biasanya diyakini demi keselamatan masyarakat.

Beberapa contoh tarian sanghyang adalah Sanghyang Jaran, Sanghyang Dedari, dan lainnya.

Menurut Komang Indra Wirawan, Dekan FKIP Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, tarian bisa disebut sakral, apabila dalam prosesnya ada upakara (bebantenan) dan upacara yang mendasari sakralisasi itu terjadi. Serta diperkuat dengan Panca Yadnya dan sumber Babad Lakon Cerita.

"Intinya sakralisasi akan terjadi jika ada banten," sebutnya kepada Tribun Bali, Senin 28 Juni 2021.

Sehingga jika tari-tarian tanpa ada banten, kerap disebut balih-balihan.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved