Breaking News:

Serba Serbi

Mengenal Jenis Tarian di Bali, Tari Wali Menjadi Sakral Apabila Disucikan dengan Upacara dan Upakara

dalam gerakan itu diungkapkan rasa kejiwaan, emosional, keindahan dengan mengindahkan ritmis gerak tersebut. Sehingga terjadi pemantulan rasa dari

Pande Putu Agus Permana
Pementasan tarian rangda dalam pertunjukan calonarang, belum lama ini. 

Tarian rejang pun memiliki banyak jenis, semisal tarian Rejang Renteng, Rejang Lilit, Rejang Bengkol, dan lain sebagainya.

Kemudian tarian pendet, adalah tari persembahyangan karena penarinya membawa alat-alat upacara seperti canang pasucian, pasepan, tetabuhan, dan lainnya.

Biasanya tarian ini ditarikan oleh pemuda, atau pemangku di halaman pura yang tersuci.

Lalu ada tari baris, yang melambangkan kepahlawanan. Sebab penari kerap membawa tombak, tamyang, perisai dan sebagainya. Ada banyak tarian baris, seperti Baris Gede, Baris Pendet, dan baris lainnya.

Lalu ada tarian sanghyang, yang biasanya sang penari melakukan tariannya dalam kondisi tidak sadar. Sebab dalam kondisi tran atau tidak sadar itu, penari menari di atas api dan kakinya tidak terbakar.

Baca juga: Tarian Bali dan Gamelan Hadir di KBRI Washington D.C.

Selain itu, penari lainnya menunjukkan petunjuk-petunjuk yang bersifat kerohanian, gaib, atau niskala. Biasanya diyakini demi keselamatan masyarakat.

Beberapa contoh tarian sanghyang adalah Sanghyang Jaran, Sanghyang Dedari, dan lainnya.

Menurut Komang Indra Wirawan, Dekan FKIP Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, tarian bisa disebut sakral, apabila dalam prosesnya ada upakara (bebantenan) dan upacara yang mendasari sakralisasi itu terjadi. Serta diperkuat dengan Panca Yadnya dan sumber Babad Lakon Cerita.

"Intinya sakralisasi akan terjadi jika ada banten," sebutnya kepada Tribun Bali, Senin 28 Juni 2021.

Sehingga jika tari-tarian tanpa ada banten, kerap disebut balih-balihan.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved