Berita Jembrana

UPDATE: Evaluasi Pencarian KMP Yunicee Hari Ke-7, Tim SAR Gabungan Beri Opsi Penghentian Pencarian

sesuai SOP maka pencarian bisa dikakukan hanya sekitar tujuh hari. Namun, akan meminta persetujuan kepada pihak keluarga.

Tribun Bali/I Made Ardhiangga Ismayana
Kepala Basarnas Provinsi Bali, Gede Darmada, Minggu 4 Juli 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Pencarian korban KMP Yunicee yang tenggelam sudah pada hari ke-6 menginjak hari ke-7.

Atas hal ini, sesuai SOP maka pencarian bisa dikakukan hanya sekitar tujuh hari. Namun, akan meminta persetujuan kepada pihak keluarga.

Di samping itu juga, alasan dari dihentikannya pencarian adalah dugaan korban yang masih berada di dalam kapal.

Kepala Basarnas Provinsi Bali, Gede Darmada menyatakan, bahwa untuk pencarian korban dan barang ketika memang tidak ditemukan sesuatu yang berarti, maka akan dihentikan Pencarian untuk hari ke-7

Baca juga: UPDATE: Satu Korban KMP Yunicee Ditemukan di Perairan Teluk Sembulungan Banyuwangi

“Kalau tidak ada yang signifikan maka akan dihentikan. Namun akan menunggu terlebih dulu pembicaraan dengan pihak keluarga korban, yang diundang secara virtual. Karena memang menimbang bahwa ketika (korban) berada di dalam kapal akan cukup susah melakukan evakuasi,” ucapnya Mingu sore di Posko Tim SAR Gabungan.

Menurut Darmada, untuk badan kapal yang, misalnya saja akan diangkat. Maka itu akan menjadi tanggung jawab perusahaan kapal.

 Apabila memang kalau mengganggu pelayaran maka akan bisa diangkat.

Kalau tidak mengganggu maka bisa saja tidak dilakukan.

Untuk selanjutnya, memang untuk penghentian atau tidak, akan melihat evaluasi malam hingga esok pagi.

Dan nantinya operasi SAR keputusan melalui rapat tim gabungan dilakukan Senin sore esok hari.

“Pertimbangan penghentian, kalau beberapa saksi, dari sopir bahwa salah sopir yang bernama Wira itu, diketahui kembali ke mobil mengambil dompet. Kalau di dalam kendaraan itu sangat sia-sia dilakukan,” ungkapnya.

Darmada menyebut, alasannya ialah arus kuat. Dimana pertama ROV tidak dapat diterjunkan ketika arus bawah laut saat ini 4 knot.

Penerjunan ROV itu bisa dilakukan dengan kecepatan arus tiga knot.

Kemudian opsi melakukan penyelaman, akan sangat berbahaya bagi keselamatan regu penyelam.

Nah, faktor-faktor arus bawah laut inilah yang kemudian jadi pertimbangan untuk dilakukan penghentian.

Baca juga: KNKT Belum Bisa Memastikan Penyebab Tenggelamnya KMP Yunicee di Selat Bali

“Karena kapal saja hanyut ketika diam saja, dengan arus yang cukup kuat.

Seperti kita ketahui, Selat Bali ini terletak di Laut lepas Utara dan selatan sehingga aliran arus di bawah laut cukup kuat,” bebernya. (*)

Artikel lainnya di Berita Jembrana

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved