Breaking News:

Berita Bali

Prof Windia Kupas Bentuk Perkawinan di Bali, Dari Perkawinan Biasa, Nyentana, hingga Pada Gelahang

Prof Windia Kupas Bentuk Perkawinan di Bali, Dari Perkawinan Biasa, Nyentana, hingga Pada Gelahang

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Widyartha Suryawan
Doc Pribadi Wirat Eka
Ilustrasi pernikahan - Prof Windia Kupas Bentuk Perkawinan di Bali, Dari Perkawinan Biasa, Nyentana, hingga Pada Gelahang 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Masyarakat adat di Bali mengenal beberapa istilah pernikahan.

Beberapa diantaranya, pernikahan di Bali kerap disandingkan dengan istilah pawiwahan, nganten, pawarangan, makerab kambe, dan lain sebagainya.

Prof. Dr. Wayan P Windia, S.H.,M.Si., menjelaskan pengertian perkawinan menurut hukum adat Bali, mirip dengan pengertian perkawinan sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.

"Undang-undang Perkawinan mendefinisikan perkawinan sebagai ikatan lahir batin, antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga), yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa," jelas dosen asal Nyuh Kuning Ubud tersebut kepada Tribun Bali, Selasa 6 Juli 2021. 

Perkawinan menurut hukum adat Bali, kata dia, diartikan sebagai ikatan antara laki-laki dengan seorang wanita sebagai suami-istri guna mendapatkan keturunan yang baik sekaligus meneruskan tanggung jawab (swadharma) orang tuannya.

Ahli Hukum Adat Bali dari Universitas Udayana, Prof. Dr. Wayan P. Windia SH Msi
Ahli Hukum Adat Bali dari Universitas Udayana, Prof. Dr. Wayan P. Windia SH Msi (Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara)

"Sesudah melangsungkan perkawinan, pasangan suami-istri disebut alakirabi, masomahan atau makurenan," kata pengamat hukum adat di Bali ini.

Dijelaskan, hubungan perkawinan sesungguhnya bukan sekadar masalah saling mencintai antar seorang laki-laki dengan seorang wanita. 

Prosesinya berkaitan dengan aturan agama dan hukum, baik hukum adat maupun hukum nasional. 

Masyarakat adat Bali lumrahnya mengenal dua bentuk perkawinan, yakni perkawinan biasa dan perkawinan nyentana.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved