Breaking News:

Ngopi Santai

Kemenjadian, Menyingkirkan Duri di Jalan dan Memberi Minum Anjing Kehausan

Kesadaran yang lebih tinggi (higher LoC) memancarkan efek yang bermanfaat dan menyembuhkan bagi (kehidupan) dunia.

Penulis: Sunarko | Editor: Sunarko
pixabay
Ilustrasi tentang berbagi dan kebaikan hati 

TRIBUN-BALI.COM - Setiap kenaikan progresif dari tingkat kesadaran (Level of Consciousness/LoC) seseorang, meningkatkan frekuensi atau vibrasi energinya. LoC memuat energi kehidupan.

Demikian diungkapkan oleh Prof David R. Hawkins, seorang psikiater yang kemudian mengkaji secara mendalam spiritualitas dan menghasilkan karya monumental Map of Consciuosness (MoC) --seperti yang tersaji dalam bukunya Power vs Force.

Menurut Hawkins, kesadaran yang lebih tinggi (higher LoC) memancarkan efek yang bermanfaat dan menyembuhkan bagi (kehidupan) dunia.

Baca juga: Dunia dan Kehidupanmu Berubah Mengikuti Hatimu

Baca juga: Kisah Uang Berkaki Empat dan Pandemi

Itu dapat dibuktikan. Hadirnya cinta dan kebenaran (the presence of love and truth) pada diri seseorang memperkuat daya juangnya.

Sebaliknya, kepalsuan atau ketidaksejatian (non-true) yang merupakan medan energi negatif yang kalibrasinya di bawah level integritas (kejujuran/keutuhan), menggerus dan meloyokan daya juang seseorang.

Menurut saya, perwujudan dari semangat yang ditenagai oleh truth and love, salah-satunya, tercermin dari kisah-kisah para pahlawan dalam perjuangan untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari ketertindasan dan penjajahan.

Meskipun secara jumlah dan teknologi persenjataan tertinggal jauh dibandingkan yang dimiliki pihak penjajah, para pahlawan memiliki daya juang yang kuat. Mereka pantang menyerah.

Tekad untuk merdeka atau mati yang merupakan pilihan tegas antara “hidup mulia atau mati di jalan kebenaran (truth) sebagai martir”, menyiratkan LoC yang tinggi dari para pejuang kemerdekaan.

Baca juga: Belajarlah Untuk Bertambah Bodoh

Baca juga: Apa Kata Paling Banyak Disebut Terkait Kematian? Ini Menurut Hasil Penelitian

Kesadaran serupa juga ditunjukkan oleh Mahatma Gandhi dalam upayanya melawan penjajahan Inggris atas India.

Gerakan kesadaran satyagraha, ahimsa dan swadesi Gandhi berhasil menggerakkan rakyat India yang kemudian berhasil mengakhiri penjajahan Inggris.

Meskipun tidak mengangkat senjata karena inti pesannya adalah perjuangan tanpa kekerasan, gerakan Gandhi melampaui "perlawanan pasif" dan menjadi kekuatan yang membawa Inggris kemudian memberikan kemerdekaan.

Disebut Gandhi, kekuatan gerakan itu justru lahir karena kebenaran dan cinta.

Dalam bahasa sederhana sehari-hari, pada hemat saya, tingkatan LoC adalah derajat kualitas kebersihan hati. Kebersihan niat.

Saya jadi teringat ucapan mantan Kepala Staf Angkatan Darat/KSAD (alm) Jenderal TNI Pramono Edihe Wibowo berikut ini:

”Perang itu adalah mengadu kebersihan hati. Orang yang tidak bersih hatinya bisa dijawab di lapangan. Jadi, kalau ada orang yang menggunakan perang untuk naik pangkat, nanti kena sendiri. Hanya ingin terlihat hebat dan memerintahkan prajuritnya, dan tidak peduli pada prajurit, akan kena sendiri. Saya berkali-kali melihat itu,” demikian kata Pramono Edhie, yang menghabiskan sebagian besar karir militernya di korps Baret Merah atau Kopassus –pasukan elite TNI Angkatan Darat.

Oleh karena itu, ada yang mengatakan bahwa kehidupan pun sesungguhnya adalah ajang perang. Perang melawan ego.

“Kita mengubah dunia bukan dengan apa yang kita katakan atau lakukan, tetapi (dunia berubah) sebagai konsekuensi dari kemenjadian kita,” ucap Hawkins.

Kemenjadian adalah kualitas kesadaran, kualitas kebersihan hati, yang jauh dari embel-embel kepentingan ego. Dari hati yang bersih kemudian bisa memancar kemuliaan pada sisi-sisi yang lain seperti perbuatan dan ucapan.

Jadi, ini bukan tentang ucapan dan perbuatan yang terkesan mulia dan baik, namun minus alias tak disertai kebersihan batin. Itu masih kulit, dan permukaan.

Baca juga: Bersahabat dengan Stres Itu Bisa Menyehatkan, Begini Penjelasannya Menurut Riset Ilmiah

Baca juga: Pesan Indah dari Kisah Paket Berbungkus Kresek Hitam

Itulah mengapa ajaran agama memberi kedudukan mulia pada niat atau motivasi batin.

Perbuatan seseorang bisa tampak biasa-biasa saja, seperti menyingkirkan duri di jalan atau memberi minum anjing yang kehausan.

Namun, jika itu dilakukan dengan niat tulus tanpa pamrih kecuali didorong oleh/demi kebaikan itu sendiri (boleh disebut unconditional kindness, divine kindness atau divine virtue), maka nilai keutamaannya jauh lebih besar dibandingkan dengan perbuatan yang dilabeli sebagai amal dan donasi yang sungguhpun terlihat konkret membantu, namun di kedalaman hati pelakunya ada motif pamer atau ingin dipuji.

Bagaimana pendapat Anda?

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved