Corona di Bali

Tak Boleh Jualan, Pedagang Pasar Badung Luh: Suami Tidak Kerja, Bagaimana Caranya Memenuhi Kebutuhan

Pedagang Pasar Badung Sektor Non Esensial Ditutup, Luh Karmasih Berkaca-kaca: Suami Tidak Kerja, Anak Empat, Bayar Hutang

Tribun Bali/Putu Supartika
Suasana Pasar Badung lantai III dan IV di mana puluhan kios dan los tutup karena masuk kategori sektor non esensial - Tak Boleh Jualan, Pedagang Pasar Badung Luh: Suami Tidak Kerja, Bagaimana Caranya Memenuhi Kebutuhan 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kebijakan PPKM Darurat yang mewajibkan usaha non esensial tutup 100 persen membuat pedagang kecil menangis.

Mereka menjerit karena tempat mereka mengais rezeki seperti ‘dirampas’ negara, dan tak diberikan berjualan hingga PPKM Darurat ini berakhir.

Apalagi untuk kehidupan sehari-hari mereka sangat bergantung dari hasil berjualan ini.

Keadaan ini sangat dirasakan oleh pedagang di Pasar Badung, Denpasar, Bali, yang dianggap non esensial.

Baca juga: Pemantauan PPKM Darurat di Badung, Sekda Ajak Masyarakat Patuhi Aturan Pemerintah dan Jalani Prokes

Pedagang alat-alat upakara, Ni Luh Karmasih (41) pun matanya sampai berkaca-kaca menceritakan kesulitan hidup yang dialaminya saat ini.

Matanya memerah dan sesekali mencoba untuk menahan agar air matanya tak menetes saat diwawancarai Tribun Bali, Senin 12 Juli 2021 siang.

Ia yang mengandalkan hasil berjualan untuk kebutuhan dapur ini dipaksa untuk menutup tempatnya mengais rezeki.

“Sangat berat sekali hidup ini. Punya anak 4 masih sekolah semua, bapak sudah tidak kerja karena sudah tak ada tamu. Hanya ini satu-satunya yang jadi andalan keluarga sekarang, tapi sekarang diminta untuk tutup,” cerita Karmasih.

Apalagi beban yang berat ditambah lagi dengan hutang yang harus ia tanggung.

Padahal sejak pandemi mewabah kehidupan ekonominya sudah sulit, kini semakin sulit dengan kebijakan penutupan 100 persen sektor non esensial.

“Semalaman saya tidak bisa tidur memikirkan ini, bagaimana caranya memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Meskipun tempat berjualannya ditutup, ia tetap datang ke tempatnya berjualan dengan harapan ada orang yang akan datang.

Hal yang sama juga dirasakan penjual perlengkapan upacara, Kadek Suti Ariani (48).

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved