Breaking News:

Berita Badung

Okupansi Hotel di Bali Kini Hanya Single Digit, Banyak Karyawan yang Kembali Dirumahkan

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat Jawa-Bali memasuki hari ke-14, tingkat kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata pun menurun drastis

Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Karsiani Putri
(Tribun Bali/Rizal Fanany)
ILUSTRASI- Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali memasuki hari ke-14, tingkat kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata pun menurun drastis jika dibandingkan sebelum adanya PPKM Darurat. 

TRIBUN BALI.COM, MANGUPURA - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali memasuki hari ke-14, tingkat kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata pun menurun drastis jika dibandingkan sebelum adanya PPKM Darurat.

BACA JUGA: Usaha Non Esensial Ditutup, Kapolres Badung Beri Imbauan dan Paket Sembako Ke Pemilik Usaha

Menurunnya angka kunjungan itu mengakibatkan tingkat hunian kamar (okupansi) hotel di Bali juga turun bahkan kini hanya single digit rata-rata hariannya.

"Setelah kebijakan PPKM Darurat Jawa-Bali mulai 3 Juli lalu kedatangan wisatawan ke Bali turun menjadi dibawah seribu. Namun sebelum PPKM Darurat kedatangan wisatawan antara 7 ribu sampai 9 ribu. Sekarang tingkat hunian hotel baik di Badung maupun Bali itu single digit," ungkap Ketua PHRI Badung I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, SE., MBA, Jumat 16 Juli 2021 saat dikonfirmasi.

Okupansi hotel yang hanya single digit tersebut berada diangka 2 hingga 5 persen, dan hal ini mengakibatkan banyak pengelola hotel kembali merumahkan karyawannya untuk meminimalisir pengeluaran.

"Banyak lagi hotel tutup operasional dan merumahkan karyawannya karena tidak ada bookingan. Saat ini hampir 60 persen hotel di Bali tidak beroperasi," imbuh Agung Rai.

Total kamar hotel di Bali sebanyak 146 ribu lebih dan hampir 103.000 kamar atau 70 persennya berada di Kabupaten Badung.

Dan jika kedatangan wisatawan domestik khususnya sekarang hanya 1 ribu dapat dibayangkan okupansinya bagaimana.

Walaupun misalnya banyak hotel masih buka atau beroperasi tapi tidak ada tamu untuk apa, justru jika masih buka akan menambah beban operasional dari hotel itu sendiri.

"Makanya mengambil kesimpulan untuk efisiensi kan menutup kembali hotelnya sementara sampai situasi akan lebih baik," paparnya.

Sementara itu dikonfirmasi secara terpisah, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Legian Wayan Puspa Negara menyampaikan di Legian terdapat 124 hotel, baik hotel berbintang maupun tidak berbintang dan 130 restoran hampir 90 persennya tidak beroperasi.

"Yang beroperasi itu mungkin takut propertinya rusak karena jika tidak dihuni oleh tamu dalam jangka waktu lama akan terjadi kerusakan. Baik itu kelistrikannya atau lainnya," imbuh Puspa Negara.

Agung Rai menambahkan mengenai kebijakan PPKM Darurat diperpanjang atau tidak itu kewenangan Pemerintah Pusat, pihaknya tidak dapat mengintervensinya karena tentu ada pertimbangan-pertimbangan khusus.

"Harapan saya jika situasinya sudah membaik kan artinya PPKM Darurat tidak perlu diperpanjang, tetapi kalau situasinya memburuk tentu akan dipertimbangkan diperpanjang oleh Pemerintah Pusat. Harapannya diperpanjang atau tidak agar tetap diberikan bantuan kepada masyarakat karena 60 persen masyarakat kita ekonominya sudah sangat parah kondisinya," imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved