Breaking News:

Inggris Sambut 'Hari Kebebasan', Ilmuwan Khawatir Kasus Covid-19 Kembali Tinggi

Sedangkan terkait perintah hukum mencakup pemakaian masker di tempat umum dan kebijakan bekerja dari rumah, dibatalkan.

AFP/JESSICA TAYLOR via KOMPAS.COM
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson saat berbicara di Parlemen Inggris 

TRIBUN-BALI.COM, LONDON - Pembatasan kegiatan sehari-hari terkait pandemi Covid-19 sudah dicabut oleh pemerintah Inggris mulai hari ini 19 Juli 2021. 

Adanya penghapusan kegiatan sosial ini pun banyak tidak disetujui oleh para ilmuwan dan partai oposisi.

Hal ini juga disebut lompatan berbahaya menuju situasi yang belum jelas diketahui. 

Selewat pukul 00.00 waktu Inggris, klub malam dibuka kembali dan tempat-tempat dalam ruangan lainnya diizinkan beroperasi dalam kapasitas penuh.

Sedangkan terkait perintah hukum mencakup pemakaian masker di tempat umum dan kebijakan bekerja dari rumah, dibatalkan.

Para pekerja kunci National Hospital Service (NHS) dibebaskan dari aturan karantina untuk membantu menghindari rumah sakit membatalkan layanan karena kekurangan staf.

Ironisnya, Perdana Menteri Boris Johnson saat ini menjalankan karantina khusus setelah ia berkontak dengan Menteri Kesehatan Sajid Javid yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Lewat rekaman video, Johnson berpidato mendesak masyarakat untuk tetap berhati-hati, dan segera mengkuti langkah vaksinasi yang kini sudah meliputi dua pertiga warga dewasa.

Johnson membela kebijakan yang dijuluki "hari kebebasan" oleh beberapa media, meskipun para ilmuwan waswas setelah tingkat infeksi harian di Inggris mencapai 50.000.

Angka ini membuntuti urutan Indonesia dan Brasil.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved