Breaking News:

Corona di Bali

Ketersediaan Oksigen di Rumah Sakit Swasta Menipis, Begini Kata Dr. Fajar Ketua ARSSI Bali

Dr.dr.I.B.G. Fajar Manuaba, SpOG, MARS selaku Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Wilayah Bali membenarkan ketersediaan oksigen di Rumah Sakit Provinsi

Istimewa
Dr.dr.I.B.G. Fajar Manuaba, SpOG, MARS selaku Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Wilayah Bali. 

Laporan Wartawan, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Dr.dr.I.B.G. Fajar Manuaba, SpOG, MARS selaku Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Bali membenarkan ketersediaan oksigen di Rumah Sakit Provinsi Bali mulai menipis.

Ketika dikonfirmasi Tribunbali.com, dr. Fajar mengatakan produksi oksigen tidak sesuai dengan kebutuhan saat ini. 

"Benar sekali karena produksi dan kebutuhan tidak sesuai. Khusus oksigen cair kita masih datangkan dari Jawa. Yang gas jadi rebutan," katanya pada, Senin 19 Juli 2021. 

Baca juga: Wamen Kesehatan Ungkap Kebutuhan Oksigen bagi Pasien Covid-19 Naik 5 Kali Lipat,Begini Antisipasinya

Hal tersebut membuat saat ini rumah sakit melakukan seleksi untuk penerima oksigen.

Untuk hal tersebut tergantung pada masing-masing rumah sakit.

dr. Fajar juga mengatakan saat ini banyak pasien yang dirujuk dari rumah sakit swasta ke rumah sakit pemerintah seperti RSUP Sanglah karena tidak berani merawat pasien tanpa oksigen.

Sementara untuk rumah sakit swasta di Provinsi Bali, diakui dr. Fajar untuk ketersediaan oksigen masih naik turun. 

Baca juga: Cek Ketersediaan Oksigen Medis, Bupati Banyuwangi: Lebih Baik Hirup Langsung Ketimbang dari Tabung

"Kondisinya naik turun yang jelas amat krisis sehingga operasi elektif ditunda. Pastilah masalahnya menyeluruh (stok oksigen yang menurun di RS Swasta Provinsi Bali)," tambahnya. 

Lebih lanjutnya ia mengatakan, untuk saat ini rumah sakit swasta maupun pemerintah melakukan amprah ke satgas oksigen namun belum terselesaikan masalahnya.

Biasanya pihaknya melakukan daftar kebutuhan via online namun tidak ada jaminan untuk bisa terpenuhi. 

"Pengadaan dan kebutuhan amat timpang. Apalagi oksigen cair datangkan dari Banyuwangi. Sedangkan kebutuhan di Jatim amat besar."

"Di Satgas tidak mengikutsertakan Persi atau ARSSI jadi rumah sakit sifatnya hanya konsumen saja dan menunggu nasib," imbuhnya. 

Baca juga: Jangan Coba-coba Timbun Oksigen Medis, Terancam Penjara Maksimal 6 Tahun dan Denda Rp 2 Miliar

Menurutnya tidak mudah menetapkan jumlah oksigen yang diperlukan saat ini di Provinsi Bali, yang jelas kondisi sekarang produksi tetap tapi permintaan oksigen 3 sampai 5 kali lipat bertambah dan selama ini belum ada pengumpulan data mengenai hal tersebut.

Ia berharap dalam situasi krisis komunikasi harus bagus terutama perlunya radio medik untuk Provinsi Bali.

Pada bulan Februari 2020 sebelum Covid-19 merebak pihaknya sudah meminta agar disiapkan radio medik di mana Dinas Kesehatan Provinsi sebagai host dan Rumah Sakit di Bali memakai handytalky.

Dengan HT bisa asalkan provinsi menyiapkan repeater. Jadi tanya jawab bisa cepat dan 24 jam.

Baca juga: Dinkes Denpasar Khawatir Terjadi Kelangkaan Oksigen di Denpasar, Sri Armini Harap Kasus Melandai

"Saat ini kita mengandalkan group WA jelas akan lemah dari segi kecepatan. Bukan tidak mungkin ada pandemi lain di masa datang jadi radio medik perlu ada namanya juga perang jadi komunikasi cepat utama."

"Sudah saatnya kita membangun instalasi poroduksi oksigen cair di Bali apalagi ada 71 rumah sakit di Bali. Sekaligus membuat pengolahan limbah medis, kasus meningkat tapi sampah dikirim ke Jawa Barat," tandasnya. 

Ia juga kembali ingatkan kepada masyarakat agar selalu menaati prokes. Rumah sakit sudah amat kewalahan. 

"Masalahnya tidak hanya Covid-19 yang perlu oksigen. Terima pasien Lakalantas saja kita takut tangani takut oksigen tidak cukup," tambahnya. (*)

Berita lainnya di Corona di Bali

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved