Breaking News:

Pandemi Covid-19 di Bali, Ketua ARSSI Tekankan Butuh Radio Medik, Selama Ini Hanya Andalkan WA Grup

Sebelumnya pada bulan Februari 2020 sebelum Covid-19 merebak pihaknya sudah meminta agar disiapkan radio medik

Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Eviera Paramita Sandi
Istimewa
Dr.dr.I.B.G. Fajar Manuaba, SpOG, MARS selaku Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Wilayah Bali. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Dalam situasi darurat kesehatan seperti pada pandemi covid-19 kini, komunikasi dalam hal medis amat diperlukan. 

Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Wilayah Bali, Dr.dr.I.B.G. Fajar Manuaba, SpOG, MARS mengatakan komunikasi harus bagus saat kondisi seperti ini.

Ia juga mengungkap perlunya radio medik untuk Provinsi Bali.

Sebelumnya pada bulan Februari 2020 sebelum Covid-19 merebak pihaknya sudah meminta agar disiapkan radio medik, dimana Dinas Kesehatan Provinsi sebagai host dan Rumah Sakit di Bali memakai handytalky.

Dengan HT bisa asalkan Provinsi menyiapkan repeater. Sehingga proses tanya jawab bisa dilakukan cepat dan 24 jam.

"Saat ini kita mengandalkan grup WA (WhatsApp) jelas akan lemah dari segi kecepatan. Bukan tidak mungkin ada pandemi lain di masa datang, jadi radio medik perlu ada. Namanya juga perang jadi komunikasi cepat utama," ujarnya.

Rumah Sakit Lakukan Seleksi Oksigen

dr Fajar Manuaba juga mengungkap menurunnya ketersediaan oksigen di rumah sakit di Bali. 

Menurutnya produksi oksigen yang ada saat ini tidak sesuai dengan kebutuhan. Jumlahnya kurang. 

"Benar sekali karena produksi dan kebutuhan tidak sesuai. Khusus oksigen cair kita masih datangkan dari Jawa. Yang gas jadi rebutan," katanya pada, Senin (19 Juli 2021).

Hal tersebut membuat RS kini melakukan seleksi untuk penerima oksigen.

Dan hal tersebut tergantung pada masing-masing rumah sakit.

Banyak pasien yang dirujuk dari rumah sakit swasta ke rumah sakit pemerintah seperti RSUP Sanglah, dikarenakan tidak berani merawat pasien tanpa oksigen.

Sementara untuk Rumah Sakit swasta di Provinsi Bali, diakui dr. Fajar untuk ketersediaan oksigen masih naik turun.

"Kondisinya naik turun yang jelas amat krisis sehingga operasi elektif ditunda. Pastilah masalahnya menyeluruh (stok oksigen yang menurun di RS Swasta Provinsi Bali)," tambahnya.

Untuk saat ini rumah sakit swasta maupun pemerintah melakukan amprah ke Satgas Oksigen namun belum terselesaikan masalahnya.

Biasanya pihaknya melakukan daftar kebutuhan via online namun tidak ada jaminan untuk bisa terpenuhi.

"Pengadaan dan kebutuhan amat timpang. Apalagi oksigen cair datangkan dari Banyuwangi. Sedangkan kebutuhan di Jatim amat besar. Di Satgas tidak mengikut sertakan Persi atau ARSSI.  Jadi rumah sakit sifatnya hanya konsumen saja dan menunggu nasib," imbuhnya.

Menurutnya, tidak mudah menetapkan jumlah oksigen yang diperlukan saat ini di Provinsi Bali, yang jelas kondisi sekarang produksi tetap tapi permintaan oksigen naik 3 sampai 5 kali lipat dan selama ini belum ada pengumpulan data mengenai hal tersebut.

Ia juga kembali ingatkan kepada masyarakat agar selalu mentaati prokes. Rumah Sakit sudah amat kewalahan sekali.

"Masalahnya tidak hanya Covid-19 yang perlu oksigen. Terima pasien Lakalantas saja kita takut tangani takut oksigen tidak cukup," tutupnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved