Berita Bali

TMMD ke-111, Jalur Evakuasi Bencana di Kaki Gunung Agung Bali Itu Kini Telah Terhubung

Satgas TMMD telah memperhitungkan dan memetakan secara strategis titik lokasi pembangunan jembatan yang menghubungkan Kecamatan Selat dan Kecamatan

Dok. Pendam IX/Udayana
Satgas TMMD ke-11 Kodim 1623/Karangasem saat proses pembangunan jembatan penghubung di kaki Gunung Agung, Desa Sebudi, Karangasem, Bali. 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM , KARANGASEM – Denyut Dusun Bukit Galah, Banjar Sogra, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali kini lebih berdetak, setelah dalam kurun sebulan belakangan ini bersolek melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).

Ya, tiga puluh hari itu kini telah berlalu, Desa pun tampak lebih indah dan gagah dari sebelumnya, dari semangat TMMD wujud sinergi membangun negeri, sejumlah sasaran fisik meliputi pembangunan jembatan penghubung hingga pembukaan lahan pertanian telah dirampungkan Satgas sesuai target dibangun oleh Satgas TMMD bersama warga secara gotong royong.

Semasa pelaksanaan, di kawasan berudara sejuk itu, hiruk pikuk dan hilir mudik tentara Satgas TMMD begitu tergambar, udara sejuk itu pun seolah terasa hangat, tetes peluh keringat TNI bersama warga membuahkan hasil pembangunan yang menunjang kesejahteraan masyarakat setempat, sebuah jembatan penghubung sepanjang 15 meter dengan lebar 5 meter kini berdiri kokoh memancang di bawah kaki Gunung Agung, gunung tertinggi di Pulau Dewata itu.

Satgas TMMD telah memperhitungkan dan memetakan secara strategis titik lokasi pembangunan jembatan yang menghubungkan Kecamatan Selat dan Kecamatan Bebandem itu.

Baca juga: RSAD Kodam IX/Udayana Dibanjiri Karangan Bunga Ucapan Terima Kasih Atas Serbuan Vaksinasi Covid-19

Berkaca dari bencana erupsi Gunung Agung tahun 2017 silam, jembatan ini menjadi tonggak jalur evakuasi yang lebih mudah menyelamatkan nyawa warga dari bahaya erupsi gunung berapi yang masih aktif itu.

Wilayah Desa Sebudi ini pernah terisolir tahun 2017 lalu, saat erupsi Gunung Agung, satu-satunya akses jembatan semi permanen hancur diterjang banjir lahar dingin. Warga pun kerap dilanda kecemasan akan terputusnya akses antar wilayah.

Drrrrrrr……..grrrrrr…..begitu deru mesin kendaraan dan alat berat melintas di atas tanah mendistribusikan bahan bangunan lekat terdengar di telinga warga sehari-hari, bukan deru kesedihan, melainkan deru asa baru dari masyarakat yang menjadi sasaran program TMMD ke-111 Kodim 1623/Karangasem periode II Tahun Anggaran 2021, raut wajah sumringah tergambar dari warga yang kini memiliki jalur aksesibilitas yang didambakan untuk menopang segala kebutuhan warga yang dibangun hanya dalam kurun waktu satu bulan mulai 15 Juni 2021 dan selesai pada 14 Juli 2021.

Jembatan ini dibangun dengan konstruksi yang mampu menahan beban hingga seberat 30 Ton atau 30.000 kilogram yang dirancang oleh Dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) mampu menjadi akses baru bagi warga Dusun Bukit Galah, Desa Sebudi, Kecamatan Selat dan Dusun Yeh Kori, Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem.

Sebelumnya, hanya ada jembatan semi permanen yang hanya bisa dilalui dengan beban maksimal 5 ton, itu pun kondisinya sangat memprihatinkan.

Tujuh hari berlalu selepas peresmian, jalur itu kini dimanfaatkan warga untuk menunjang perekonomian masyarakat dalam distribusi hasil pertanian, juga bakal menjadi jalur pendidikan karena mempermudah transportasi bagi pelajar yang bersekolah lintas kecamatan pada saat pembelajaran tatap muka kembali berlangsung nantinya, sebuah kerinduan yang baru, dan utamanya jembatan penghubung ini memiliki fungsi vital dalam kesiapsiagaan jalur evakuasi kebencanaan apabila terjadi letusan erupsi Gunung Agung.

Dahulu masyarakat ketika beraktivitas harus menempuh berpuluh kilometer jaraknya, seperti dari Desa Amertha Buana menuju Pasar Bebandem yang sebelumnya jarak tempuhnya sampai 10 kilometer, maupun akses dari Desa menuju kota Karangasem, kini jaraknya terpangkas dengan keberadaan jembatan penghubung ini.

Terlebih masyarakat sekitar yang mayoritas mata pencaharian sebagai petani, kini lebih mudah mengangkut hasil pertanian dari desa ke desa, 15 meter yang begitu berarti jembatan penghubung yang dibangun oleh TNI AD bersama warga ini.

Pelajar dari Dusun Bukit Galah yang bersekolah di Desa Jungutan tidak lagi harus menyeberang sungai yang berbahaya terlebih saat musim hujan tiba, mereka kini bisa mulai mengakses jembatan hasil karya bhakti TMMD, yang lebih kuat dan aman.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved