Breaking News:

Berita Buleleng

Terdampak Ekonomi Akibat Pandemi Covid-19, Warga Buleleng Banyak Bercerai

Pandemi Covid-19 yang terjadi selama satu tahun lebih ini membuat banyak masyarakat kehilangan mata pencaharian.

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: M. Firdian Sani
Tribun Bali/ Ratu Ayu Astri Desiani
Humas PN Singaraja I Nyoman Dipa Rudiana 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Pandemi Covid-19 yang terjadi selama satu tahun lebih ini membuat banyak masyarakat kehilangan mata pencaharian.

Hal ini kemudian menimbulkan konflik di rumah tangga, sehingga berujung pada perceraian. 

Dari data yang berhasil dihimpun di Pengadilan Negeri (PN) Singaraja, perkara perceraian sejak Januari hingga Desember 2020 mencapai 707.

Sementara pada Januari hingga 19 Juli 2021 mencapai 123 perkara.

Bila dibandingkan dengan tahun 2019 sebelum adanya pandemi Covid, perkara perceraian yang tercatat di PN Singaraja sebanyak 720. 

Setelah Bercerai, Pria di China Wajib Bayar Mantan Istri Rp 109 Juta untuk Pekerjaan Rumah Tangga

Humas PN Singaraja I Nyoman Dipa Rudiana ditemui Rabu (21 Juli) mengatakan, dari sekian perkara perceraian yang ditangani, peringkat pertama terjadi akibat faktor ekonomi, karena kehilangan pekerjaan.

Peringkat kedua karena faktor perselingkuhan, dan peringkat ketiga karena faktor KDRT. 

"Untuk tahun ini paling banyak memang karena faktor ekonomi. Yang menggugat seimbang antara istri dan suami, rata-rata diusia produktif 30-40 tahun.  Yang digugat sebagian besar mengakui tidak bisa menafkahi karena kehilangan pekerjaan akibat pandemi. Sehingga terjadi cekcok dan berujung pada perceraian" ucapnya.

Sebelum memutus perkara perceraian, hakim terlebih dahulu melakukan mediasi kepada kedua belah pihak, agar mengurungkan niatnya untuk bercerai. 

Dikabarkan Akan Bercerai, Rey Utami Nangis Ceritakan Hidup Tanpa Pablo Benua, Singgung Orang Ketiga

Mediasi ini wajib dilakukan selama 30 hari kerja.

Apabila mediasi tidak berhasil, maka perkara terpaksa akan dilanjutkan di ruang sidang.

Sejak Januari hingga 19 Juli 2021, Dipa tidak memungkiri sebanyak 41 perkara perceraian berhasil dimediasi. 

"Jika berhasil memediasi, itu menjadi prestasi bagi hakim karena bisa mendamaikan perkara di pengadilan. Kedua belah pihak selalu diingatkan oleh hakim, kalau karena masalah ekonomi bisa bekerja dan berjuang bersama-sama.  Tapi pemikiran orang kan beda-beda," jelasnya. (*)

Ratu Ayu Astri Desiani/ Humas PN Singaraja, I Nyoman Dipa Rudiana 

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved