Breaking News:

Corona di Dunia

1,5 Juta Anak Kehilangan Orangtua Akibat Covid-19

Penelitian The Lancet dan dipimpin oleh akademisi Imperial menyatakan, data kematian Covid-19 dari Maret 2020 hingga April 2021 menyajikan hal itu.

Editor: DionDBPutra
Pixabay
Ilustrasi Covid-19. Sebuah studi menyebut 1,5 juta anak di seluruh dunia telah kehilangan orangtua karena Covid-19. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Sebuah studi menyebut 1,5 juta anak di seluruh dunia telah kehilangan orangtua karena Covid-19.

Mereka kehilangan salah satu orang tua, kakek, atau nenek yang merawatnya. Penelitian The Lancet dan dipimpin oleh akademisi Imperial menyatakan, data kematian Covid-19 dari Maret 2020 hingga April 2021 menyajikan hal itu.

"Covid-19 telah menciptakan krisis yang mempengaruhi anak-anak di hampir setiap negara," kata Dr Susan Hillis dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), dikutip dari CNN.

Baca juga: Dampak Pandemi Covid-19, Pengusaha Restoran Jual Piring hingga Mobil agar Bertahan Hidup

Baca juga: Bangkitkan Sektor Pangan di Masa Pandemi, Kodim Klungkung Laksanakan Program Ketahanan Pangan

"Setiap dua kematian akibat COVID-19, satu anak kehilangan orang tua atau pengasuhnya," lanjutnya.

Tim peneliti ini terdiri dari CDC, USAID (Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat), Bank Dunia, dan University College London.

Mereka menganalisis kasus kematian di 21 negara yang menyumbang lebih dari 76 persen kasus Covid-19 di dunia.

"Secara global, dari 1 Maret 2020 hingga 30 April 2021, kami memperkirakan 1.134.000 anak kehilangan pengasuh utamanya, termasuk setidaknya satu orang tua atau kakek-nenek. 1.562.000 anak kehilangan setidaknya satu pengasuh primer atau sekundernya," tulis tim peneliti dalam studi yang telah diterbitkan di jurnal medis Lancet.

Disimpulkan, kematian itu tidak hanya akibat langsung virus corona, tetapi juga dari masalah yang terkait pandemi.

Misalnya lockdown, layanan kesehatan yang tidak dapat diakses, dan perawatan kesehatan yang ditunda, pun dianggap sebagai “kematian akibat Covid-19.”

Hillis mengatakan anak-anak yang kehilangan orang tuanya akibat Covid-19 berisiko mengalami efek buruk jangka pendek dan jangka panjang yang mendalam pada kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan seperti peningkatan risiko penyakit, kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan kehamilan remaja.

"Anak-anak yang kehilangan pengasuh utama memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental, kekerasan fisik, emosional, seksual, dan kemiskinan keluarga. Pandemi berdampak anak menjadi yatim piatu adalah keadaan darurat global, dan kita tidak mampu untuk menunggu sampai besok untuk bertindak," ujar peneliti utama studi tersebut Seth Flaxman dikutip dari Imperial, Jumat 23 Juli 2021.

Beberapa pihak menyebut kehilangan orangtua atau pengasuh bagi anak sebagai dampak membekas yang amat menyedihkan akibat pandemi ini.

Seperti halnya di India data 5 Juni 2021 lalu, ada 3.632 anak terpaksa menjadi yatim piatu karena kedua orang tuannya meninggal akibat Covid-190, dan 26.176 anak yang kehilangan salah satu orang tuanya karena penyakit ini.

Bahkan angkanya diprediksi lebih tinggi lagi dari itu. Pemerintah India pun menyediakan anggaran amat besar untuk kehidupan anak-anak ini.

Maka dari itu, demi mencegah makin banyaknya orang yang meninggal karena Covid-19, tim peneliti menyarankan untuk semua orang segera mendapat vaksin Covid-19 sehingga mereka dapat terlindungi dari virus Corona, serta tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker, rutin mencuci tangan, dan menjaga jarak.(tribun network/rin/dod)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved