Breaking News:

Berita Denpasar

UPDATE:Berawal dari Penarikan Motor di Denpasar,7 Pelaku Lakukan Penganiayaan Hingga Korbannya Tewas

peristiwa ini bermula saat korban didatangi beberapa dept collector dan hendak mengambil sepeda motor yang sudah macet pembayarannya

Penulis: Firizqi Irwan | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/Firizqi Irwan
Para pelaku debt collector yang terlibat dalam aksi pengeroyokan hingga pembunuhan di Jalan Subur-Jalan Kalimutu, Denpasar Barat dan barang bukti yang berhasil diamankan pihak kepolisian 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ahmad Firizqi Irwan

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Terkait kasus pembunuhan, Kapolresta Denpasar Kombes Pol Jansen Avitus Panjaitan mengatakan jika peristiwa ini terjadi karena masalah pembayaran kredit motor macet.

Dalam keterangannya kepada awak media di loby depan Polresta Denpasar pada Senin 26 Juli 2021, peristiwa ini bermula saat korban didatangi beberapa debt collector dan hendak mengambil sepeda motor yang sudah macet pembayarannya.

"Kasus ini bermula ketika ada empat orang dari PT BMMS datang ke tempat korban KW untuk menarik sepeda motor Yamaha Lexi berplat DK 2733 ABO milik teman korban karena bermasalah dalam pembayaran kredit," ujar Kombes Pol Jansen Avitus Panjaitan, Senin 26 Juli 2021.

Dalam keterangannya, pada Jumat 23 Juli 2021 sekitar pukul 14.00 wita empat orang tersebut mengaku dari PT BMMS.

Baca juga: Update Pembunuhan di Jalan Subur Denpasar, Bertambah Jadi 7 Orang yang Diamankan

Mereka datang ke tempat kos korban Ketut Widiada untuk bermaksud untuk menarik unit sepeda motor Yamaha Lexi berplat DK 2733 ABO berwarna silver.

Sepeda motor yang diketahui milik teman korban Gede Budiarsana (34) bernama Doni tersebut, sebelumnya sudah menunggak pembayaran selama satu tahun di salah satu finance.

Kemudian motor tersebut dibawa ke kos korban Gede Budiarsana yang ternyata sudah dibawa selama hampir satu bulan untuk dipakai bekerja.

Saat empat orang debt collector ini datang dan mengambil sepeda motor, dua orang masuk ke dalam kos korban sedangkan dua lagi menunggu di depan.

Dua orang dari PT BMMS kemudian menyampaikan terkait tunggakan sepeda motor dan pada hari itu juga hendak ditarik oleh mereka.

Namun korban sempat menolak dan menanyakan perihal penarikan sepeda motor tersebut ke para debt collector yang datang ke kos korban.

"Korban sempat menanyakan terkait surat pengadilan dan penarikan sepeda motor. Tapi dari mereka (PT BMMS) itu tidak merespons dan tetap mengatakan untuk ditarik," jelasnya.

Karena korban tidak mau menyerahkan unit ke pihak debt collector, mereka kemudian mengajak korban untuk menyelesaikan permasalahan di kantor BMMS di Jalan Gunung Patuha VII, Nomor 9C, Banjar Sanga Agung, Desa Tegal Harum, Denpasar Barat.

Kemudian Ketut Widiada alias Jro Polah pergi dengan membonceng dari salah satu debt collector menggunakan sepeda motor Honda Beat warna biru putih berplat DK 6016 QF.

Ia kemudian mencari keberadaan adiknya Gede Budiarsana untuk diajak menuju ke kantor debt collector di Denpasar.

Baca juga: Pelaku Terancam Pasal Pengeroyokan, Kasus Pembunuhan di Jalan Subur Denpasar

Mereka kemudian bersama-sama dari arah Kuta, Kabupaten Badung menuju ke kantor PT BMMS di Jalan Gunung Patuha VII, Denpasar.

Sekitar pukul 14.30 wita mereka sampai ke kantor para debt collector ini, kemudian Ketut Widiada bersama Gede Budiarsana diajak bertemu dengan seorang bernama Joe.

Kedua korban kemudian duduk berdampingan dan menanyakan perihal penarikan sepeda motor yang ditarik oleh debt collector PT BMMS.

"Disini mereka sempat mengatakan perihal surat fidusia, karena penarikan ini kan harus jelas dan harus ada keputusan pengadilan," tambah Jansen.

Namun dari pihak PT BMMS ini mengatakan tidak mengetahui perihal yang dimaksud para korban dan tetap mengikuti perintah untuk memaksa menarik sepeda motor yang bermasalah.

Saat itu, Ketut Widiada sempat mengambil handphone untuk merekam tapi HP Jro Polah kemudian direbut oleh Joe, di kantor itu juga sempat dilihat oleh korban ada direktur dari PT BMMS yakni Beni Bakarbesi.

Korban sempat mendengar jika Beni mengatakan untuk menyuruh anak buahnya membunuh mereka (korban).

Lebih lanjut, saat itu Beni sempat mengayunkan parangnya yang dibawa dari kantor lalu diarahkan ke Ketut Widiada, namun aksi tersebut berhasil dicegah Ketut Widiada.

Ketut Widiada kemudian menangkap ganggang parang, namun aksi Ketut Widiada mendapat respons dari anggota dept collector tersebut dia kemudian dipukul hingga terjatuh.

Saat itu juga, diketahui dirinya sempat meminta bantuan adiknya, namun saat dilihat ternyata Gede Budiarsana juga sudah dikeroyok dari para pelaku.

Baca juga: Selain Pelaku, Polisi Juga Amankan Sajam dan Barang Bukti Lain dari Kasus Pembunuhan di Denpasar

Ketut Widiada bahkan sempat mendapatkan pukulan menggunakan helm, karena jumlah tidak sebanding mereka kemudian melarikan diri.

Baik korban Gede Budiarsana dan Ketut Widiada sama-sama kelagapan saat hendak menyelematkan diri dari kejaran para pelaku yang diperkirakan berjumlah lebih dari 10 orang.

Saat mengitari Jalan Gunung Patuha lalu ke utara menuju Jalan Gunung Rinjani, Ketut Widada berhasil kabur dengan menumpang ke driver ojek online.

Sedangkan Gede Budiarsana yang sempoyongan karena mendapat pengeroyokan dikatakan menaiki mobil pick up menuju ke Jalan Subur, Monang Maning.

"Saat di Simpang Jalan Subur-Jalan Kalimutu, Monang Maning terjadilah aksi penebasan menggunakan senjata tajam jenis pedang hingga korban meninggal dunia,"

"Sementara KW mengalami luka robek pada bagian kepala akibat terkena tebasan pedang dari salah satu pelaku," tambahnya.

Usai kejadian, diketahui para pelaku lalu kembali ke Kantor PT BMMS dan selanjutnya melarikan diri.

Sementara itu, polisi yang mendapat informasi tersebut langsung melakukan olahraga TKP dan melakukan pengejaran terhadap para pelaku.

Pengejaran pelaku dilakukan Satreskrim Polresta Denpasar bersama Polsek Denpasar Barat dan dibantu Polda Bali.

Hasilnya satu pelaku berhasil diamankan setelah pihak kepolisian mendapat informasi dari masyarakat dan rekaman CCTV disekitar TKP.

Pelaku yakni I Wayan Sadia alias Sinar, kedapatan membawa pedang dari situ polisi kemudian melakukan pengejaran terhadap pelaku yang sempat terkena tebasan pedang saat korban melakukan perlawanan.

"Iya pelaku WS berhasil ditangkap di RS Balimed sedangkan pelaku lainnya ditangkap di masing-masing tempat tinggalnya,"

"Sedangkan barang bukti berhasil diamankan di TKP pertama di Jalan Gunung Patuha, Monang Maning," terang Kombes Pol Jansen Avitus Panjaitan.

Hasil pemeriksaan, Wayan Sadia mengaku telah melakukan aksi penebasan terhadap korban sebanyak tiga kali dengan pedang yang dibawanya.

Sedangkan pelaku lainnya melakukan aksi pengeroyokan secara bersama-sama terhadap korban di TKP awal di Jalan Gunung Patuha VII.

"Masing-masing pelaku, ada yang melakukan aksi pembunuhan, pelemparan batu, kursi dan lainnya. Untuk sementara kita masih dalami lagi saat gelar rekonstruksi," tegas Jansen.(*)

Artikel lainnya di Berita Denpasar

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved