Breaking News:

Berita Buleleng

Produksi Sampah di Buleleng Capai 100 Ton/Hari, DLH Pakai Sistem Sanitary Landfill Kurangi Tumpukan

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng pun kini mencoba menggunakan sistem sanitary landfill, agar tumpukan sampah itu cepat berkurang karena terkompos

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Wema Satya Dinata
Istimewa
DLH Buleleng saat menyemprotkan cairan ekoenzim di TPA Bengkala, Minggu (21/2/2021) pagi. Produksi Sampah Warga Buleleng Capai 100 Ton per Hari, DLH Gunakan Sistem Sanitary Landfill Kurangi Tumpukan 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - TPA Bengkala saat ini dalam kondisi overload. Setiap hari, jumlah sampah yang dibuang mencapai 100 ton. 

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng pun kini mencoba menggunakan sistem sanitary landfill, agar tumpukan sampah itu cepat berkurang karena terkomposting.

Kepala DLH Buleleng, Gede Melanderat dikonfirmasi Rabu (28/7/2021) mengatakan, kendati saat ini Buleleng sedang menerapkan PPKM, produksi sampah tiap hari sama seperti hari-hari sebelumnya, yakni mencapai 100 ton per hari.

Mengatasi kondisi TPA Bengkala yang mulai overload, pihaknya pun menggunakan sistem sanitary landfill.

Baca juga: Pendaftar CPNS Pemkab Buleleng Tercatat 3.725 Orang, Enam Formasi Dokter Spesialis Nihil Pelamar

Sistem ini diterapkan setelah setelah pihaknya mendapatkan suplai tanah urugan dari proyek bendungan Tamblang.

Dengan menggunakan sistem sanitary landfill, sampah dapat terkomposting dalam kurun waktu tiga bulan, sehingga tumpukannya dapat berkurang.

"Awalnya TPA Bengkala diprediksi tidak mampu menampung sampah pada akhir tahun ini, karena tumpukannya sudah mencapai 15 meter.

Tapi dengan sistem sanitary landfill, sampah bisa terurai dengan cepat, sehingga tumpukannya bisa berkurang," ucapnya.

Selain agar sampah cepat terkomposting, sistem ini juga kata Melanderat digunakan untuk menghidar terjadinya kebakaran di TPA. Mengingat dalam tumpukan sampah itu mengandung zat metan. 

"Ketika panas, sampah yang sifatnya 3B seperti bekas botol parfum dan korek gas akan mudah meledak dan menimbulkan percikan api, sehingga bisa membakar sampah kering yang ada di sekitarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved