Breaking News:

Berita Bangli

Masyarakat di Desa Terunyan Keluhkan Bau Menyengat Bangkai Ikan, Kini Bingung Cari Tempat Mengubur

Tak hanya berdampak pada kematian ikan, bangkai yang belum terangkut juga menimbulkan bau menyengat, sehingga meresahkan masyarakat sekitar

Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Wema Satya Dinata
Istimewa
Bangkai ikan di wilayah Desa Terunyan, Kintamani. Kamis (29/7/2021) 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Semburan belerang yang terjadi sejak dua pekan terakhir mulai menimbulkan masalah baru.

Tak hanya berdampak pada kematian ikan, bangkai yang belum terangkut juga menimbulkan bau menyengat, sehingga meresahkan masyarakat sekitar.

Hal tersebut mulai mencuat setelah adanya pengaduan masyarakat melalui group facebook ‘Pengaduan 24 Jam Era Baru’, Kamis 29 Juli 2021.

Keluhan yang diunggah akun bernama Bagaskara Putra itu meminta Pemkab Bangli untuk segera mencari solusi tentang limbah ikan yang mati di wilayah Desa Terunyan. Sebab limbah ikan tersebut sangat meresahkan dan berbau menyengat.

Baca juga: Peternak Ikan Khawatir, Semburan Belerang Kembali Muncul di Banjar Seked Bangli

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli, I Wayan Sarma membenarkan adanya semburan belerang di wilayah Desa Terunyan, Kintamani.

Fenomena alam tersebut diketahui pada hari Kamis (29/7/2021).

“Sepanjang yang saya tahu, tahun ini merupakan semburan belerang terpanjang.

Awalnya memang tanggal 14 Juli, lima hari kemudian sudah selesai.

Setelah itu, tiga hari berikutnya muncul di Songan selama tiga hari dan menyebabkan kematian ikan di Songan sekitar 5 ton.

Sempat juga terjadi semburan awal di Seked, Kedisan, dan Buahan, tapi hanya sehari. Dan hari ini, terdampak juga di sekitar wilayah Terunyan,” ungkapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved