Wawancara Tokoh
Bincang dengan Ibunda Windy Cantika Aisah, Berharap Anaknya Jadi Pegawai Negeri Sipil
SITI Aisah, ibunda Windy Cantika Aisah, mengaku tak pernah melarang putri bungsunya berpacaran jika suatu saat bertemu dengan pujaan hati
TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - SITI Aisah, ibunda Windy Cantika Aisah, mengaku tak pernah melarang putri bungsunya berpacaran jika suatu saat bertemu dengan pujaan hati.
"Silakan kalau mau pacaran, tapi jangan mengganggu kamu latihan, yang bisa mendukung kamu olahraga," ujar Siti saat wawancara khusus dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra dan News Manager Tribun Network Rachmat Hidayat, Sabtu 7 Agustus 2021.
Menurut Siti Aisah, Windy sudah besar dan sudah bisa menentukan sikapnya sendiri, termasuk menekuni angkat besi,cabang olahraga yang ia tekuni dulu.
Ia berharap anak bungsunya bisa menjadi pegawai negeri sipil (PNS).
Baca juga: Mengenal Sosok Windy Aisah, Peraih Medali Pertama Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020
Siti Aisah merupakan atlet angkat besi Indonesia tahun 1980-an.
Dia meraih medali perak pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi di Amerika Serikat 1987.
Siti sempat menanyakan putrinya apakah ingin mengikuti jejak paman-pamannya untuk menempuh ilmu di bidang kedokteran.
Ternyata Cantika mengikuti jejaknya.
Berikut petikan wawancara khusus Tribun Network bersama Siti Aisah, ibunda dari Windy Cantika Aisah, atlet angkat besi Indonesia yang meraih medali perunggu di Olimpiade Tokyo 2020.
Apakah ada kendala yang dialami Cantika selama menekuni olahraga angkat besi?
Banyak. Nggak semudah yang diraih Cantika sekarang itu. Banyak perjalanannya. Pernah cedera kejepit urat pantat sampai sama dokter tidak boleh latihan.
Pernah cedera pinggang, bahu juga. Apalagi kemarin dia mau berangkat ke Tokyo sempat ketimpa itu kakinya sampai bengkak.
Ada yang berat cederanya?
Biasa, kalau lama nggak latihan atau kurang pemanasan bahu, pinggang, pasti ada (cedera).
Nggak ada (yang berat). Biasa-biasa saja (cederanya), normal.
Kalau cedera paling berat yang dialami Cantika apa? Berapa lama?
Paling ya pinggang. Kalau pinggang itu pasti (pernah).
Nggak kecetit, tapi pegal-pegal saja.
Mungkin karena posisinya kurang tepat, atau kurang pemanasan.
Kira-kira pernah atau tidak Cantika bercerita kekhawatirannya terkait kemungkinan cedera yang dialami, seperti efeknya kepada dia?
Dia kalau cedera itu biasanya kurang pemanasan.
Jadi kita langsung obati pakai Counterpain.
Nanti juga sembuh sendiri.
Cedera itu juga bisa kalau kita mau naik angkatan, pegal-pegal juga ada.
Tapi itu kita pakai latihan saja, pakai senam-senam, nanti bisa sehat lagi.
Cantika merasa enjoy-enjoy saja ya, meskipun ada kabar olahraga angkat besi ini bisa bermasalah ke kesuburan?
Iya, dia enjoy-enjoy saja, seperti saya sekarang ini.
Apakah ada dokter khusus atau tenaga kesehatan yang selalu dihubungi Cantika kalau cedera?
Ada, kan di pelatnas (pemusatan latihan nasional) ada dokter.
Kalau kita sakit lutut, ada juga dokternya.
Sudah siap di sini dokternya, dokternya siaga.
Sebagai atlet angkat besi, tentu membutuhkan asupan energi yang cukup. Apakah ada asupan khusus yang digunakan Cantika?
Banyak. Kebetulan kan sekarang dia pelatnas sudah hampir mau dua sampai tiga tahun.
Jadi semua kebutuhan itu dipenuhi oleh pelatnas.
Sepanjang dua tahun di pelatnas, berapa kali Cantika pulang ke rumah?
Ini kan lagi pandemi, jadi dia jarang pulang.
Cuma kita (berhubungan) lewat telepon.
Paling setahun sekali juga jarang.
Baru kemarin pulang, cuma sehari.
Ya ngeri juga pulang ke Bandung, takutnya nanti pulang kita terpapar, akhirnya kita jaga kondisi saja.
Baca juga: PROFIL Windy Aisah, Lifter Asal Bandung Peraih Medali Pertama Indonesia di Olimpiade Tokyo 2021
Ibu pernah menjenguk Cantika di pelatnas?
Saya suka (menjenguk). Kadang-kadang dua bulan sekali.
Dia kalau sudah kangen, 'Ma, tolong ma ke Jakarta'. Ini saya lagi di mess Cantika.
Biasanya kalau ibu menjenguk, Cantika minta oleh-oleh apa?
Paling dia oleh-olehnya cuma minta mustofa kentang, cumi-cumi asin.
Bagaimana kebiasaan Cantika sehari-hari yang khas?
Dia biasanya di rumah saja, seperti teman-temannya saja, orang biasa, di rumah.
Cuma dia kalau lagi di rumah senang kumpul-kumpul dengan teman-temannya, masak-masak di rumah.
Dia paling senang gitu, jarang keluar dia.
Apa kebiasaan Cantika apabila mau ikut pertandingan? Apakah menghubungi ibu?
Kalau kontak saya selalu dia.
Sehari itu tiga atau empat kali dia selalu kontak.
'Ma, aku mau latihan, doain biar latihannya lancar', 'Ma, aku sudah selesai latihan', paling kotnak-kontakan gitu saja.
Cantika termasuk atlet muda, berprestasi, berhasil meraih medali. Pernah nggak ibu memberi wejangan seperti 'kamu jangan pacaran dulu ya nak, nanti nggak fokus sebagai atlet', pernah nggak ibu seperti itu?
Nggak, saya nggak pernah melarang. Karena dia kan sudah besar gitu. Jadi dia sudah bisa memilih sendiri.
Silakan kalau mau pacaran, tapi jangan mengganggu kamu latihan, yang bisa mendukung kamu olahraga kamu seperti apa, itulah yang mengerti posisi kamu.
Harapan ibu untuk Cantika ke depan akan menjadi apa?
Ya, kalau saya nggak muluk-muluk.
Dapat pekerjaan yang bagus untuk dia, untuk masa depannya.
Ya kalau bisa masuk PNS lah, biar untuk masa depannya.
Kalau bonus kan ada habisnya, kalau kerja sampai dia tua kan bisa juga.
Tapi sampai sekarang belum ada pihak yang menawarkan Cantika jadi PNS?
Dengar-dengar sih sudah. Tapi belum tahu juga.
Apakah Cantika juga menyukai atau menekuni olahraga lain?
Oh tidak ada.
Bagaimana pendidikan formal Cantika? Kan sebagai seorang atlet, tetap perlu juga diperhatikan pendidikan formalnya.
Alhamdulilah lancar.
Sekarang dia sudah kuliah di Universitas Tridharma, semester dua.
Ambil jurusan manajemen.
Apakah ibu berharap Cantika hanya menyelesaikan di tingkatan Strata-1 (S1), atau berlanjut ke S2, bahkan S3?
Itu masih jauh itu, jawaban ada di Cantika.
Yang penting selesai dulu S1-nya, dia dapat pekerjaan bagus.
Jadi seperti yang ibu harapkan tadi ya, agar Cantika mendapat kesempatan menjadi PNS?
Iya betul.
Jika berkaca pada pengalaman ibu sebagai mantan atlet angkat besi, kira-kira kapan tepatnya Cantika untuk pensiun?
Biasanya kalau atlet angkat besi itu usia 30 tahun kalau kita masih bisa dan mampu itu kita masih bisa ikut event-event, ya nasional, ya internasional.
Kalau umumnya laki-laki itu (pensiunnya) usia 40 tahun, kalau perempuan usia 35 tahun.
Setelah meraih medali perunggu di Olimpiade Tokyo 2020, ke depan harapan apa yang ingin Cantika mau capai?
Dia biasanya orangnya enjoy sih.
Yang penting dia jalani aja, doa.
Mengalir saja seperti air.
Rezeki kan yang di atas yang mengatur, kita berdoa saja.
Apapun hasilnya dinikmati dan disyukuri saja.
Pernah atau tidak Cantika cerita, misalnya di Olimpiade 2024 mendatang ingin meraih medali emas?
Tidak, tidak pernah cerita dia. Jarang dia kalau masalah target-target.
Kita berdoa saja yang terbaik buat saya, katanya gitu.
Doa ibu untuk Cantika?
Ya kalau semua orang tua samalah doanya.
Mendoakan supaya anaknya sukses, berhasil, lancar semua urusannya, dikasih sehat, dikasih rezekinya.
Ya begitulah saya berdoa. (tribun network/vincentius jyestha)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/windy-aisah-12.jpg)