Serba Serbi
Kekawin Niti Sastra Membahas Etika Kepemimpinan
Dalam kitab Niti Sastra atau Kekawin Niti Sastra Sargah III.1 disebutkan sebuah kutipan.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam kitab Niti Sastra atau Kekawin Niti Sastra Sargah III.1 disebutkan sebuah kutipan.
Bunyinya, 'Tegal tan ananing dukutnya tinilar tekapi pacu taman hanang lawad, nadi tan ana toya Suska matilar sarasa hiku demeh padasepi, ikang purusa hina dina kasihan tinilarakeningkang waranggana narendra na-pariksa nirghrena dumah balanira matilar mang inggati'.
Artinya, ‘lapangan tiada berumput ditinggalkan oleh binatang, tidak ada binatang yang suka datang ke situ, sungai yang kering, tiada berair, ditinggalkan oleh burung kuntul, itulah sebabnya menjadi sepi. Orang laki-laki yang hina dina, dan miskin dielakkan oleh kaum perempuan.Raja atau pemimpin yang kurang periksa dan kejam, ditinggalkan oleh rakyatnya, mereka itu lari dari padanya’.
Disebutkan bahwa dari kutipan sastra tersebut dapat dipahami bahwa interaksi antara pemimpin dengan yang dipimpin hendaknya harmonis, akrab, dan saling memahami keadaannya.
Baca juga: Lahirkan Kidung dan Kekawin Tentang Pandemi dalam Lomba Sastra Saraswati Sewana
Dijelaskan pula bahwa pemimpin yang kurang memerhatikan rakyatnya sudah tentu akan ditinggalkan.
Saling menjaga juga tertulis di dalam Kekawin Niti Sastra I.10, dengan bunyi sebagai berikut :
'Singharaksakaning halas, halas ikang rakseng harinityaca, Singha mwang wana tan patut pada wirodhangdoh tikang kesari, rug brasta ngwana denikang jana tinon wreksanya sirna padang, Singhanghot ri jurangnikang tegal ayun sampun dinon'.
Artinya, singa adalah penjaga hutan, akan tetapi juga selalu dijaga oleh hutan, jika singa dengan hutan berselisih, mereka marah, lalu singa itu meninggalkan hutan, hutannya dirusak-binasakan orang, pohon-pohonnya ditebangi sampai menjadi terang, singa yang lari bersembunyi di dalam curah, di tengah-tengah ladang, diserbu orang dan dibinasakan.
Tentunya maksud dari kutipan ini adalah tentang saling menjaga antara pemimpin dengan alam semesta dan isinya.
Singa diibaratkan pemimpin, karena memang ia kerap disebut raja hutan.
Namun apabila ia tidak lagi akur dengn hutan, atau wilayah yang dijaganya.
Lalu si singa pergi, maka kehancuran akan menanti hutan tersebut.(*).
Baca juga: Lahir Tanpa Saudara hingga Wuku Wayang, Ini Alasan Mengapa Tumpek Wayang Jadi Hari Keramat
Kumpulan Artikel Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-singa.jpg)