Berita Bali

Kasus Masih Fluktuatif, Pemprov Bali Sosialisasikan Enam Langkah Jitu Hindari Penularan Covid-19

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali tetus melakukan berbagai upaya untuk mengedukasi masyarakat dan mensosialisasikan enam langkah jitu

Penulis: Ragil Armando | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/Rizal Fanany
ilustrasi swab antigen - Kasus Masih Fluktuatif, Dinkes Bali Sosialisasikan Enam Langkah Jitu Hindari Penularan Covid-19 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Angka penyebaran Covid-19 di Bali masih berjalan secara fluktuatif.

Bahkan, setelah sempat berada di empat digit, kini angka penyebaran Covid-19 di Pulau Dewata mulai menurun.

Pada Minggu (22/8/2021) angka positif mencapai titik terendahnya selama penerapan PPKM di Bali yakni 549 orang.

Pun begitu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali tetus melakukan berbagai upaya untuk mengedukasi masyarakat dan mensosialisasikan enam langkah jitu guna menghindari dari penularan Covid-19.

Baca juga: Kritik Kebijakan PPKM, Puluhan Mahasiswa di Bali Sampaikan Protes

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Provinsi Bali, Ketut Suarjaya, Senin 23 Agustus 2021.

Suarjaya mengatakan apabila ada anggota keluarga dinyatakan positif Covid-19, agar seluruh keluarga segera melakukan testing dengan Rapid Test Antigen atau Swab PCR ke Rumah Sakit, Puskesmas, atau Laboratorium.

"Tidak boleh merasa takut mengikuti testing, keterlambatan mengikuti testing akan berdampak langsung pada warga yang bersangkutan, dan beresiko menular pada keluarga atau masyarakat lainnya. Penularan ini yang sangat berbahaya," ujarnya.

Ia menyampaikan, ketika ada warga yang terkena Covid-19 dengan gejala ringan, seperti, badan meriang, demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, hilangnya penciuman, dan hilangnya rasa pengecap, tidak diperkenkan melakukan isolasi mandiri melainkan harus isolasi terpusat.

Suarjaya mengharapkan agar segera ke tempat Isolasi terpusat (isoter) yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota atau Desa.

Hal itu dikarenakan pelayanan kesehatan dipastikan terjamin.

"Kalau gejalanya seperti itu, dilarang keras melakukan Isolasi mandiri di rumah," tegasnya.

Sementara bagi warga yang terkena Covid-19 dengan gejala sedang/berat, seperti, batuk yang disertai dengan sesak nafas, agar segera ke Rumah Sakit Rujukan di masing-masing wilayah untuk mendapatkan perawatan.

Menurutnya keterlambatan dalam mendapatkan perawatan sangat berbahaya, mengancam jiwa bagi warga yang bersangkutan.

Data menunjukan bahwa banyak warga yang terlambat masuk Rumah Sakit, dalam kondisi sudah parah sehingga akhirnya tidak bisa diselamatkan nyawanya.

Baca juga: Pemkot Denpasar Siapkan Rp 3,2 Miliar untuk Isolasi Terpusat, Per Kamar Disewa Rp 300 Ribu

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved