Breaking News:

Berita Buleleng

Pagerwesi Besok, Tradisi Memunjung di Buleleng Dibatasi

Bertepatan Hari Raya Pagerwesi, yang jatuh pada Rabu 1 September 2021, beberapa krama Desa Adat Buleleng biasanya akan melaksanakan tradisi memunjung

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Sejumlah Krama Desa Adat Buleleng saat melaksanakan tradisi Memunjung di hari raya Pagerwesi beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Bertepatan Hari Raya Pagerwesi, yang jatuh pada Rabu 1 September 2021, beberapa krama Desa Adat Buleleng biasanya akan melaksanakan tradisi Memunjung atau menghaturkan banten punjung di kuburan Desa Adat Buleleng

Tradisi ini digelar untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia namun belum diaben, agar mendapat tempat di sisi Tuhan. 

Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna dikonfirmasi Selasa 31 Agustus 2021 mengatakan, tradisi Memunjung selalu dilakukan oleh masyarakat Desa Adat Buleleng, saat hari raya besar umat hindu, seperti Pagerwesi, Galungan dan Kuningan.

Baca juga: RSUD Buleleng Siapkan Poli Covid-19, Berikut Fungsinya

Mamunjung dilakukan oleh krama apabila terdapat keluarga yang meninggal dunia namun masih dikubur atau mekinsan ring pertiwi

"Memunjung itu memberikan rasa hormat bakti kepada saudara yang meninggal mekinsan ring pertiwi. Pagi-pagi, karama membawa banten punjung beserta makanan kesukaan almarhum, lalu diaturkan di masing-masing pusara."

"Setelah  dihaturkan, warga kemudian mengkonsumsi makanan tersebut dengan suka cita," ucapnya. 

Baca juga: Masuki Musim Kemarau, 17 Hektar Sawah di Buleleng Alami Gagal Panen

Tradisi ini diakui Sutrisna saat ini sudah jarang dilakukan oleh krama Desa Adat Buleleng.

Pasalnya, krama saat ini sebagian besar lebih memilih untuk langsung melaksanakan upacara ngaben, ketimbang mekinsan ring pertiwi.

Baca juga: Pemkab Buleleng Dikabarkan Tak Alokasikan Anggaran Pemetaan PLP2B, Ini Dampaknya Bagi Petani

"Saat ini jumlah gumuk (pusara) di Setra Desa Adat Buleleng hanya ada sekitar 15. Jumlahnya mulai sedikit, karena banyak yang memilih untuk langsung melaksanakan upacara ngaben," ungkapnya. 

Mengingat saat ini masih dalam situasi pandemi Covid, Sutrisna menyebut, tradisi Memunjung nanti akan mendapatkan pengawasan ketat Satgas Gotong Royong.

Jumlah krama yang melaksanakan tradisi pun akan dibatasi, masing-masing empat orang.

"Keluarga yang melaksanakan Memujung kami akan batasi, maksimal empat orang.  Luas setra kan 1.92 hektar, tidak mungkin berkerumun," tambahnya. (*)

Berita lainnya di Berita Buleleng

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved