Breaking News:

ARSSI Sebut Tak Adanya Tempat Pengelolaan Limbah Medis di Bali Malah Jadi Pemborosan

Sementara untuk tempatnya, ia berpandangan pengelolaan limbah ini bisa ditempatkan di sebelah TPA (tempat pembuangan akhir).

Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali/Ni Luh Putu Wahyuni Sari
Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Bali, dr. Fajar Manuaba ketika ditemui pada, Minggu 15 Agustus 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Bali telah menyarankan agar pemerintah membuat tempat pengelolaan limbah medis sendiri.

Terlebih di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, tempat pengelolaan limbah medis sangat dibutuhkan. 

Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Bali, Fajar Manuaba mengatakan untuk peralatan pengelolaan limbah medis sendiri angkanya tidak sampai Rp 10 miliar.

"Kalau saya dengar peralatan limbah medis tidak sampai 10 Miliar sekarang yang ribet itu kan izin-izin dan tanggapan masyarakat. Kalau izin dibuka dan diyakinkan tidak akan bersengketa dengan masyarakat banyak kok yang mau. Berapa kali kita jajaki dengan Dinkes mental terus," katanya pada, Senin 6 September 2021.

Baca juga: RS di Bali Khawatir Akan Isu Kenaikan Tarif Angkutan Limbah Medis Covid-19 

Lebih lanjutnya ia mengatakan bahwa permasalahan limbah harus diperhatikan betul dan tidak bisa ditunda terus.

Menurutnya, hal ini yang menyebabkan Bali terus bergantung pada Jawa dan menjadi pemborosan.

Sementara untuk tempatnya, ia berpandangan pengelolaan limbah ini bisa ditempatkan di sebelah TPA (tempat pembuangan akhir).

"Sebetulnya, pengelolaan limbah bisa ditempatkan di TPA sampah, toh tetangganya sampah tapi kan konsep tata ruang kita sudah mengunci itu. Pengelolaan limbah medis hanya boleh dilakukan di Negara dan Gerogak, Buleleng. Itu kan permasalahan. Karena kunci di sana oleh tata ruangnya. Kami kan tidak bisa kerja, seperti manusia bekerja tapi toilet tidak disediakan kan sama aja," tambahnya.

Jika nantinya pengelola limbah di Jawa menganggap pengelolaan limbah medis dari Bali sudah tidak ekonomis, tidak ditemukan kesepakatan harga juga dengan pihak rumah sakit, dikhawatirkan limbah medis Covid-19 bisa tercecer.

"Untuk tarifnya tergantung pada jaraknya. Tarifnya antara Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram. Data belum saya kumpulkan berapa per hari RS kirim limbah medis. Kami baru sekali relaksasi oksigen jadi belum konsentrasi untuk limbah medis," tutupnya. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved