Breaking News:

Berita Denpasar

Dewa Matahari Beryoga, Ini Perbedaan Tilem dan Purnama di Bali

Dalam tradisi masyarakat Hindu di Bali, dikenal waktu sakral atau yang disebut tempus sacrum.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Karsiani Putri
Tribun Bali/Rizal Fanany
Ilustrasi bulan Purnama 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam tradisi masyarakat Hindu di Bali, dikenal waktu sakral atau yang disebut tempus sacrum.

Waktu ini datangnya saat-saat masa peralihan.

Sehingga waktu-waktu tersebut dipandang sebagai waktu yang paling berbahaya dan rawan. 

Dalam kitab Sundarigama dijelaskan, bahwa masyarakat Hindu Bali sejak dahulu telah mempelajari dan mengetahui bagaimana cara menghadapinya.

Tindakan yang dilakukan masyarakat Hindu di Bali zaman dahulu adalah dengan mengadakan rangkaian upacara sebagai wujud rasa syukur kepada waktu yang telah lampau. 

Serta memohon perlindungan dan keselamatan untuk masa yang akan datang.

Waktu sakral atau hari suci yang dihitung menurut perhitungan terbit dan tenggelamnya bulan adalah Purnama dan Tilem.

Kedua waktu ini (Purnama dan Tilem) dianggap sakral karena merupakan waktu peralihan. 

Hanya saja ada perbedaan diantara keduanya.

Jika Purnama adalah waktu terakhir pada paroh terang dan waktu awal dari paroh gelap.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved