Breaking News:

Paralimpiade Tokyo 2020

Profil Leani Ratri Oktila: Menembus Keterbatasan Demi Mencetak Sejarah di Paralimpiade

Dia divonis alami gangguan pada kakinya yang memiliki panjang  berbeda. Ia pensiun sebagai atlet non-disabilitas dan beralih jadi atlet disabilitas.

Editor: DionDBPutra
NPC INDONESIA
Pasangan ganda campuran Indonesia, SL3-SU5 Hary Susanto/Leani Ratri Oktila pada Paralimpiade Tokyo 2020. 

TRIBUN-BALI.COM - Leani Ratri Oktila sempat mengira perjalanan kariernya sebagai atlet bulu tangkis Indonesia berakhir setelah tragedi kecelakaan sepeda motor menimpa dirinya pada tahun 2011 silam.

Perempuan yang masih berusia 21 tahun itu padahal bermimpi untuk menjadi atlet bulu tangkis yang hebat dan bisa membanggakan Indonesia di berbagai kejuaraan, apalagi ia sudah menekuni olahraga tepok bulu itu sejak umurnya masih tujuh tahun.

Namun, mimpi tersebut harus dikubur dalam-dalam sejak tragedi kecelakan yang membuatnya mengalami patah tulang pada kaki dan tangan kirinya.

Dia divonis mengalami gangguan pada kakinya yang memiliki panjang  berbeda. Ia pensiun sebagai atlet non-disabilitas dan beralih menjadi atlet disabilitas.

Baca juga: Leani Ratri Berhasil Meraih Medali Emas di Paralimpiade Tokyo 2020, Apresiasi dari Presiden Jokowi

Baca juga: DAFTAR Atlet Indonesia Peraih Medali Paralimpiade Tokyo, Leani Ratri Emas, Ni Nengah Widiasih Perak

Di tengah keterbatasan fisiknya itu, Leani memutuskan untuk terus berjuang merawat mimpinya agar bisa menjadi pebulu tangkis hebat, meski harus menghadapi berbagai tantangan.

Dalam perjalanannya menjadi atlet Paralimpiade, ia sempat mendapat tentangan dari orang tuanya yang tidak mau anaknya merasa kecil hati karena harus bertanding sebagai atlet non-disabilitas.

Namun, Leani selalu memutuskan untuk terus berjuang tak kenal lelah demi mewujudkan cita-citanya menjadi atlet yang membanggakan.

Leani Ratri Oktila/Khalimatus Sadiyah (tengah) memperlihatkan medali emas setelah menang 21-18, 21-12 atas wakil China Cheng Hefang/Ma Huihui pada final ganda putri SL3-SU5 di Stadion Nasional Yoyogi, Jepang, Sabtu (4/9/2021).
Leani Ratri Oktila/Khalimatus Sadiyah (tengah) memperlihatkan medali emas setelah menang 21-18, 21-12 atas wakil China Cheng Hefang/Ma Huihui pada final ganda putri SL3-SU5 di Stadion Nasional Yoyogi, Jepang, Sabtu (4/9/2021). (ANTARA/HO-KBRI Tokyo)

Ia mulai mengikuti berbagai turnamen. Gelar pertamanya di cabor para-bulu tangkis dicatatkan saat Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2012 Riau ketika dia meraih satu emas dan satu perak.

Tahun 2013 menjadi awal perjalanan Leani bergabung bersama dengan Komite Paralimpiade (NPC) Indonesia. Ia mulai turun dalam kejuaraan internasional.

Naik podium utama berbagai kejuaraan sudah pernah dirasakan, mulai dari emas ASEAN Para Games, emas Asian Para Games, hingga Kejuaraan Dunia Para Games.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved