Breaking News:

Corona di Bali

Fokus Turunkan Kasus Aktif, Wali Kota Denpasar dan Forkopimda Tinjau RS Rujukan Covid-19

I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Forkopimda Kota Denpasar meninjau rumah sakit rujukan Covid-19

Istimewa/Pemkot Denpasar
Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Forkopimda Kota Denpasar melaksanakan peninjauan rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota Denpasar pada Kamis 9 September 2021 - Fokus Turunkan Kasus Aktif, Wali Kota Denpasar dan Forkopimda Tinjau RS Rujukan Covid-19 

Jaya Negara mengaku selalu berpedoman pada Inmendagri dan juga putusan dari Gubernur Bali.

“Yang ada di sana mall boleh dilonggarkan. Kalau di Sanur ada aktivitas masyarakat nelayan dan tetap juga ada penjagaan. Kalau wisata untuk hotel kan tutup semua,” katanya.

Dengan belum dibukanya lapangan di Denpasar maka Lapangan Puputan Badung, Lapangan Lumintang dan Taman Kota Lumintang masih tetap ditutup.

Meskipun demikian, aktivitas masyarakat yang berolahraga masih ditemui di kawasan lapangan Puputan Badung maupun Lumintang.

Baca juga: UPDATE Kasus Aktif Covid-19 di Kota Denpasar Masih 4,65 persen

Pantauan di Lapangan Puputan Badung, di sekeliling lapangan masih dipasangi traffic cone.

Dengan masih ditutupnya lapangan ini, Satgas pun meminta masyarakat untuk maklum akan hal tersebut.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, I Dewa Gede Rai mengatakan, meskipun lapangan masih ditutup, namun aktivitas jogging masih diperbolehkan.

"Kalau untuk imun, misalnya lari di pinggir lapangan kami izinkan, asal ikuti protokol kesehatan," kata Dewa Rai.

Sejak virus Corona masuk ke Bali, Kota Denpasar merupakan wilayah dengan kasus Covid-19 tertinggi di Pulau Dewata.

Berdasarkan data Kemenkes RI per 5 September 2021, positivity rate mingguan Kota Denpasar mencapai 6,36 persen.

Kasus terkonfirmasi 70,08 per 100 ribu penduduk per minggu.

Jumlah pasien rawat inap mencapai 50,20 per 100 ribu penduduk per minggu.

Tingkat kematian mencapai 4,41 per 100 ribu penduduk per minggu.

Namun, tingkat testing dan tracing terhadap kontak erat masih rendah, yakni masih 3,31 per kasus konfirmasi per minggu.

Sementara batas aman positivity rate dari WHO di bawah 5 persen dan jumlah testing tracing pada angka 15 per kasus konfirmasi positif Covid-19.

Ketika dikonfirmasi, Ketua IDI Kota Denpasar Ketut Widiasa mengatakan, salah satu alasan pemerintah belum menurunkan PPKM Level karena tingkat penularan kasus Covid-19 di Kota Denpasar masih tinggi.

Indikator asesmen situasi Covid-19 mingguan Kota Denpasar masih tingkat 4.

"Jadi dari data itu memang terlihat kasus penularan masih tinggi," katanya, Kamis.

Widiasa mengatakan, beberapa faktor penyebab tingkat penularan dan kematian di Kota Denpasar masih tinggi karena Kota Denpasar merupakan wilayah paling padat dan akses mobilitas penduduk di Pulau Dewata.

Pusat ekonomi yang biasanya berada di wilayah pariwisata seperti Badung, Gianyar dan lainnya kini berpindah ke Ibu Kota Provinsi Bali, Kota Denpasar.

Terakhir, pusat fasilitas kesehatan di Pulau Dewata berlokasi di Kota Denpasar.

Sehingga pasien terkonfirmasi Covid-19 banyak tercatat di Kota Denpasar.

"Apa tingkat prokes menurun atau apa saya juga belum punya data. Yang jelas risiko penularan tinggi karena mobiltas penduduk yang tinggi," lanjutnya.

Dia mengatakan, upaya penangganan pasien Covid-19 dengan testing dan tracing serta treatment melalui isolasi terpusat sudah cukup baik.

Namun, masih ada beberapa warga yang enggan menjalani testing atau isolasi dengan berbagai alasan, termasuk takut stigma Covid-19.

"Kita bersama-sama mengendalikan kasus corona caranya adalah mencegah penularan. Jangan bosan menerapkan prokes itu satu-satunya untuk terhindar dari Covid-19," katanya. (sup/sar)

Kumpulan Artikel Corona di Bali

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved