Breaking News:

Berita Bali

Angin Segar Pembukaan Mal dan Objek Wisata di Bali, Perlunya Antisipasi Lonjakan Kunjungan

Kembali dibukanya mal dan objek wisata di Bali menjadi angin segar, tapi harus antisipasi terjadinya fenomena Revenge Travel atau lonjakan aktivitas

Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Rizal Fanany
Pengunjung memilih pakaian di Ramayana Dept Store, Denpasar Rabu 8 September 2021. Menyusul dengan keluarnya Surat Edaran Nomor 15 tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Corona Virus Disease 2019 dalam Tatanan Kehidupan Era Baru di Provinsi Bali , per rabu 8 September 2021 seluruh mal dan pusat perbelanjaan di Bali termasuk Denpasar resmi diizinkan beroperasi dengan kapasitas maksimal 50 persen dan jam operasional hingga pukul 21.00 Wita. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kembali dibukanya mal dan objek wisata di Bali menjadi angin segar bagi masyarakat maupun para pelaku usaha yang sudah lama "tiarap" dihantam pandemi Covid-19.

Pemerintah kemudian mewanti-wanti unsur Forkopimda untuk mengantisipasi terjadinya fenomena Revenge Travel atau lonjakan aktivitas secara drastis di tempat-tempat, seperti mal maupun obyek wisata dengan protap protokol kesehatan ketat.

Hal itu agar justru kelonggaran ini tidak menjadi bumerang bagi pemerintah maupun masyarakat kendati sudah menjadi kerinduan yang mendalam bagi masyarakat akan hiburan.

Jika abai terhadap prokes bukannya kasus Covid-19 semakin menurun, namun justru kembali membuka potensi penularan.

Baca juga: Menko Luhut Ungkap Pariwisata Bali Akan Dibuka Secara Bertahap

"Fenomena revenge travel memang dapat diprediksi dan dimaklumi mengingat sudah lamanya masyarakat terkungkung di rumah, terutama bagi generasi milenial," ujar Sosiolog Universitas Udayana, Wahyu Budi Nugroho saat dikonfirmasi Tribun Bali, Minggu 12 September 2021.

Menurut Wahyu, pada awalnya, travelling atau rekreasi tergolong sebagai kebutuhan sekunder bahkan tersier, namun generasi milenial cenderung menempatkannya sebagai kebutuhan premier.

"Hal ini dikarenakan filsafat romantisme yang cukup memengaruhi generasi milenial, yakni seolah keutuhan dan keparipurnaan diri hanya dapat diperoleh lewat melakukan sebanyak-banyak perjalanan, mengalami beragam pengalaman, serta menjumpai banyak orang dengan beragam latar belakang," paparnya

Maka tak heran, generasi milenial lekat dengan aktivitas travelling, bahkan berbagai penelitian turut menyebutkan jika mereka lebih memilih membelanjakan uangnya untuk travelling dibandingkan untuk membeli rumah. 

"Dapat dipastikan, jika minat travelling kembali meningkat, harga-harga kamar hotel pun akan kembali melambung," ujarnya 

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved