Breaking News:

kesehatan

Apa itu Alice in wonderland syndrome? Kondisi yang Mengakibatkan Perubahan Persepsi dan Disorientasi

Pada umumnya, gejala Alice in wonderland syndrome akan berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa jam.

Editor: I Made Dwi Suputra
kompas.com
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM - Alice in wonderland syndrome merupakan salah satu kondisi langka yang menyebabkan perubahan persepsi dan disorientasi.

Kondisi ini dapat mempengaruhi banyak indera, termasuk penglihatan, sentuhan, dan pendengaran.

Gejala

Pada umumnya, gejala Alice in wonderland syndrome akan berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa jam yang akan berbeda pada setiap penderitanya.

Baca juga: 5 Tanda-tanda Seseorang Kekurangan Vitamin D: Kelelahan, Kram, Nyeri Tulang, hingga Depresi

Melansir Healthline, berikut tanda-tanda atau gejala yang biasanya terjadi pada sindrom ini, yaitu:

  • Mengalami migrain atau sakit kepala pada satu sisi bagian kepala
  • Bagian tubuh atau benda-benda di sekitar Anda terlihat lebih besar, lebih kecil, lebih jauh, atau lebih dekat dari kondisi aslinya
  • Kehilangan kontrol anggota badan atau kehilangan koordinasi
  • Waktu terasa berjalan lebih cepat atau lebih lambat dari seharusnya
  • Sensitif terhadap suara sehingga sering mendengar bunyi aneh atau bising

Penyebab

Berdasarkan MedicineNet, Alice in wonderland syndrome diyakini tidak terkait dengan masalah mata, halusinasi, atau penyakit mental.

Akan tetapi, sindrom ini disebabkan oleh perubahan cara otak dalam merasakan lingkungan dan bagaimana tubuh Anda terlihat.

Baca juga: Pernah Sakit saat Stress Melanda? Ternyata ada Hubungannya, Simak Penjelasan Para Ahli Berikut

Melansir Healthline, walaupun belum ada penyebab khusus yang dipastikan, berikut beberapa kondisi yang kemungkinan dapat menjadi penyebab Alice in wonderland syndrome, antara lain:

  • Trauma kepala
  • Genetik atau riwayat keluarga
  • Migrain
  • Sakit kepala
  • Penyakit Infeksi
  • Stres
  • Efek samping obat-obatan
  • Epilepsi
  • Depresi
  • Stroke
  • Tumor otak

Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan, memiliki migrain, infeksi, dan genetik keluarga dianggap dapat meningkatkan risiko.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved