Breaking News:

Afghanistan

Krisis Ekonomi Mengintai Taliban Setelah Satu Bulan Menguasai Kabul

Setelah perang selama empat dekade dan kematian puluhan ribu orang, sebagian besar keamanan di Afghanistan telah meningkat.

Editor: DionDBPutra
AFP
Pejuang Taliban dan penduduk setempat duduk di kendaraan Humvee Tentara Nasional Afghanistan (ANA) di sepanjang pinggir jalan di provinsi Laghman pada 15 Agustus 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, KABUL - Sebulan setelah merebut Kabul, Taliban menghadapi masalah yang menakutkan ketika kelompok itu berusaha untuk mengubah kemenangan militer kilat mereka menjadi pemerintahan masa damai yang tahan lama.

Setelah perang selama empat dekade dan kematian puluhan ribu orang, sebagian besar keamanan di Afghanistan telah meningkat.

Namun, ekonomi Afghanistan hancur meskipun bantuan ratusan miliar dolar telah disalurkan dalam pengeluaran pembangunan selama 20 tahun terakhir.

Baca juga: Milisi Taliban Bersantai di Rumah Mewah Mantan Wapres Afghanistan, Dilengkapi Spa dan Kolam Renang

Baca juga: Adik Mantan Wapres Afghanistan Dieksekusi Taliban, Jenazahnya Dilarang Dikubur dan Harus Membusuk

Kekeringan dan kelaparan mendorong ribuan orang dari pedesaan ke kota-kota, dan Program Pangan Dunia PBB (WFP) khawatir persediaan pangan bisa habis pada akhir September 2021, yang dapat mendorong hingga 14 juta orang ke jurang kelaparan.

Sementara itu, perhatian banyak negara Barat terfokus pada apakah pemerintah baru Taliban akan menepati janjinya untuk melindungi hak-hak perempuan atau menawarkan perlindungan kepada kelompok-kelompok militan seperti al Qaeda.

Sementara bagi banyak warga Afghanistan, prioritas utamanya adalah kelangsungan hidup yang sederhana.

"Setiap warga Afghanistan, anak-anak, mereka semua lapar, mereka tidak punya sekantong tepung atau minyak goreng," kata seorang penduduk Kabul bernama Abdullah.

Antrean panjang masih terbentuk di luar bank-bank, di mana batas penarikan mingguan sebesar 200 dolar AS (sekira Rp2,85 juta) telah diberlakukan untuk melindungi cadangan uang negara yang semakin menipis.

Pasar-pasar dadakan di mana para warga menjual barang-barang rumah tangga untuk mendapatkan uang tunai bermunculan di seluruh Kabul, meskipun pembeli kekurangan pasokan.

Bahkan dengan bantuan asing senilai miliaran dolar, ekonomi Afghanistan masih terus kesulitan dengan pertumbuhan yang gagal untuk mengimbangi peningkatan populasi yang stabil.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved