Breaking News:

Australia

Prancis Anggap Australia Tikam dari Belakang Soal Batalnya Kontrak Pembuatan Kapal Selam

Paris menyebut pembatalan kesepakatan kapal selam oleh Australia ibarat tindakan menikam dari belakang.

Editor: DionDBPutra
AFP/ROHAN THOMSON
Dalam foto yang diambil pada 17 Agustus 2021 Perdana Menteri Australia Scott Morrison berbicara selama konferensi pers di Gedung Parlemen di Canberra. 

TRIBUN-BALI.COM, MELBOURNE - Australia bersikap "berani, terbuka, dan jujur" pada Prancis atas kekhawatirannya dengan kerja sama kapal selam di antara kedua negara.

Demikian pernyataan Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton pada Minggu 19 September 2021.

Menurut Dutton, Australia sudah menyampaikan kekhawatiran kepada Prancis atas pesanan kapal selam senilai 40 miliar dolar AS (sekiraRp 570,5 triliun) pada 2016 yang diperhitungkan akan menelan biaya lebih besar saat ini.

Baca juga: Relasi Prancis  dengan Amerika Serikat dan Australia Memanas Gara-gara Kapal Selam

Baca juga: Begini Respons Indonesia Atas Keputusan Australia Miliki Kapal Selam Bertenaga Nuklir

Hari Jumat 17 September 2021, Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan bahwa dia telah menyatakan keprihatinan yang mendalam tentang kesepakatan tersebut dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Juni 2021.

File foto yang diambil 2 Mei 2018 menunjukkan Presiden Prancis Emmanuel Macron (kedua dari kiri) dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull (tengah) berdiri di dek HMAS Waller, kapal selam kelas Collins yang dioperasikan Angkatan Laut Australia, di Garden Island di Sydney. Australia diperkirakan  membatalkan kesepakatan senilai 66 miliar USD bagi Prancis untuk membangun kapal selam, menggantikannya dengan kapal selam bertenaga nuklir  menggunakan teknologi AS dan Inggris.
File foto yang diambil 2 Mei 2018 menunjukkan Presiden Prancis Emmanuel Macron (kedua dari kiri) dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull (tengah) berdiri di dek HMAS Waller, kapal selam kelas Collins yang dioperasikan Angkatan Laut Australia, di Garden Island di Sydney. Australia diperkirakan membatalkan kesepakatan senilai 66 miliar USD bagi Prancis untuk membangun kapal selam, menggantikannya dengan kapal selam bertenaga nuklir menggunakan teknologi AS dan Inggris. (AFP/BRENDAN ESPOSITO / POOL)

Dia menjelaskan bahwa Australia perlu membuat keputusan untuk kepentingan nasional negara tersebut.

Menteri Keuangan Simon Birmingham mengatakan Australia telah memberi tahu Prancis tentang kesepakatan itu tetapi mengakui bahwa negosiasinya bersifat rahasia, mengingat sensitivitasnya yang sangat besar.

Baca juga: AS Beri Australia Kapal Selam Nuklir untuk Mengimbangi Kekuatan Militer China

Dutton dan Birmingham menolak untuk mengungkapkan biaya dari perjanjian baru pembuatan kapal selam dengan Amerika Serikat dan Inggris, meskipun Dutton mengatakan proyek itu tidak murah.

Australia membatalkan kesepakatan dengan Naval Group, perusahaan kontraktor pertahanan Prancis, untuk membangun armada kapal selam konvensional, setelah mengumumkan rencana untuk membangun delapan kapal selam bertenaga nuklir dengan AS dan Inggris lewat kemitraan keamanan trilateral.

Langkah itu membuat marah Prancis, sekutu AS dan Inggris di NATO, dan memicu penarikan duta besar Prancis dari Washington dan Canberra.

Kesepakatan itu menempatkan Washington dalam krisis diplomatik yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan Prancis.

Menurut para analis, kesepakatan baru itu dapat merusak aliansi AS dengan Prancis dan Eropa, juga dapat menimbulkan keraguan pada upaya persatuan Barat yang berusaha dibangun oleh pemerintahan Presiden Joe Biden untuk melawan kekuatan China yang meningkat.

Paris menyebut pembatalan kesepakatan kapal selam oleh Australia ibarat tindakan menikam dari belakang.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan hubungan dengan AS dan Australia berada dalam "krisis". (antara)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved