Breaking News:

Berita Badung

Bendesa Adat Kuta Minta Pemberlakuan Ganjil-Genap Dikaji Ulang, Wasista: Kami Mohon Ditunda

Ia menambahkan kebijakan ini akan menjadikan keresahan bagi masyarakat umumnya dan Kuta khususnya, apa tujuan daripada pemerintah melakukan

Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Bendesa Adat Kuta saat ditemui tribunbali.com, Kamis 23 September 2021 sore di Kuta. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

TRIBUN BALI.COM, MANGUPURA - Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista meminta dan berharap kebijakan pemberlakuan Ganjil-Genap khususnya di Kuta dikaji ulang.

"Kami rasa ini kurang tepat karena apa, pantai Kuta saat ini masih sangat sepi sekali. Kenapa instansi terkait melakukan hal seperti itu, ini perlu dikaji ulang. Jangan sampai masyarakat kami merasa sedikit sudah bangkit daerah wisata sekarang buru-buru sudah ada aturan seperti ini lagi," ujar Wayan Wasista saat ditemui tribunbali.com di Kuta, Kamis 23 September 2021.

Ia menambahkan kebijakan ini akan menjadikan keresahan bagi masyarakat umumnya dan Kuta khususnya, apa tujuan daripada pemerintah melakukan pemberlakuan lalu lintas ganjil-genap ini.

Sedangkan jalan-jalan di seputaran Kuta masih sepi dan pariwisata juga masih sepi, kami sangat menyayangkan hal itu.

Baca juga: Harus Dikaji Sebelum Terapkan, Rencana Penerapan Ganjil-Genap di Sanur dan Kuta

"Kalau bisa kami mohon untuk ditunda jangan sampai ini menyakiti masyarakat kami di Kuta yang baru pariwisata pantai kuta dibuka lagi, sekarang ada keluar aturan seperti ini. Dan ini sangat meresahkan sekali," imbuh Wayan Wasista.

Lebih lanjut ia menyampaikan aturan ini tidak tepat sasaran dan untuk apa karena sekarang lalu lintas di Jl. pantai Kuta masih sepi jika dibandingkan dulu sebelum pandemi.

Jika diberlakukan dulu saat sebelum pandemi Covid-19 jalanan ramai dan bertujuan mengurangi kemacetan mungkin masih bisa kita terima.

"Kalau memang seperti dulu yang masih ramai kemudian karena untuk mengurangi kemacetan, mungkin masih diterima masyarakat. Kalau seperti ini masyarakat tidak terima dengan adanya penerapan ganjil-genap ini," ungkapnya.

Jangan sampai nanti pariwisata mulai bangkit kemudian dibunuh lagi dengan aturan seperti ini, tentu menyakiti hati nurani masyarakat.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved