Berita Bali

Fenomena Pengamen di Bali, Sosiolog Unud Minta Pemerintah Siapkan Skema Penyerapan Lapangan Kerja

SETELAH pandemi Covid-19 meluluhlantakkan Bali, muncul fenomena baru di masyarakat.

Satpol PP Kota Denpasar
Nengah Bayung (21) bersama rekannya Nengah Hendra saat diamankan Satpol PP Kota Denpasar di perempatan Tohpati, Denpasar, Sabtu 25 September 2021 kemarin - Fenomena Pengamen di Bali, Sosiolog Unud Minta Pemerintah Siapkan Skema Penyerapan Lapangan Kerja 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - SETELAH pandemi Covid-19 meluluhlantakkan Bali, muncul fenomena baru di masyarakat.

Pengamen mengenakan pakaian adat Bali lengkap dengan kemben dan udeng serta membawa perangkat sound system kecil.

Beberapa lagu Bali mereka nyanyikan dan yang paling populer adalah lagu Angkihan Baan Nyilih yang dipopulerkan Widi Widiana.

Mereka biasanya menyasar beberapa traffic light dengan lalulintas kendaraan yang padat seperti di perempatan Jalan Nangka–Jalan Gatot Subroto Denpasar, perempatan Tohpati hingga tempat keramaian seperti Pasar Sanglah.

Baca juga: Pakai Udeng Saat Ngamen di Denpasar, Sudah Lama Nengah Bayung Menganggur, Satpol PP Mengalami Dilema

Menurut Sosiolog dari Universitas Udayana (Unud) Gede Kamajaya, munculnya fenomena ini karena keterdesakan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Keadaan ini menyebabkan orang mulai merambah ke pekerjaan apa saja yang sekiranya bisa menghasilkan uang untuk bertahan hidup.

Bahkan mereka menambahkan embel-embel identitas Bali untuk menarik simpati masyarakat.

“Identitas ke- Bali-an menjadi modal kultural mereka untuk memperbesar peluang mendapatkan simpati dan tentu saja ini bisa menambah pendapatan,” kata Kamajaya, Minggu 26 September 2021.

Ia menambahkan pemerintah tak boleh diam melihat fenomena ini.

Skema penyerapan tenaga kerja perlu dipersiapkan.

“Mulai dari skema jangka pendek, menengah dan jangka panjang perlu disiapkan biar masyarakat tetap bisa produktif dan berdaya,” imbuhnya.

Kamajaya mengatakan ada banyak sektor yang bisa digarap oleh pemerintah untuk menyerap tenaga kerja.

Satu di antaranya menggarap lahan Pemprov yang tidak produktif dan terbengkalai.

“Banyak sektor yang bisa digarap, lahan Pemprov banyak yang bisa digarap, yang tidak produktif dan terbengkalai misalnya. Bisa dimanfaatkan untuk digarap dengan menyerap tenaga kerja lokal dan gaji yang memadai,” katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Berita Terkait :#Berita Bali
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved