Breaking News:

Berita Badung

Melalui Program CSR, DPPU Ngurah Rai Luncurkan Platform temusetara.com

Temu setara merupakan pionir platform edukasi digital dengan konsep inklusif dan integratif di Indonesia. 

Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Noviana Windri
DPPU Ngurah Rai
peluncuran platform temusetara.com, Selasa 29 September 2021 yang dilaksanakan secara daring. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

TRIBUN BALI.COM, MANGUPURA - Edukasi merupakan hak dan kebutuhan dasar bagi semua semua golongan.

Namun prakteknya masih banyak orang yang tidak dapat mengakses edukasi dengan mudah. 

Di era teknologi yang sudah sangat maju, tidak kemudian berbanding lurus dengan peningkatkan kemudahan akses edukasi. 

Terlebih untuk kaum Tuli, untuk melakukan akses pendidikan membutuhkan juru bahasa isyarat dan teks bantuan untuk mengakses informasi audio visual. 

Hal tersebut diperkuat dengan adanya survei terbaru dari Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya dan Australia-Indonesia Disability Research and Advocacy Network (AIDRAN) yang menemukan bahwa akses inklusi untuk Tuli belum tersedia banyak pada layanan pendidikan bahkan layanan publik. 

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 untuk Disabilitas di Denpasar Capai 51,43 Persen

Baca juga: Bhabin Polsek Negara Dampingi Nakes Sasar Vaksinasi Warga Disabilitas di Desa Berangbang

Sebanyak 64 persen mahasiswa penyandang disabilitas menyatakan bahwa pengajar pada institusi pendidikan tidak menyertakan teks bantuan dalam materi pembelajaran yang diberikan. 

Bukan semakin membaik, pada masa pagebluk Covid-19 sekarang pembelajaran online yang sedang mainstream tidak diiringi dengan perbaikan layanan inklusi baik dari pihak pemerintah maupun sekolah untuk meningkatkan akses kaum tuli. 

Dilansir dari laman theverge.com, Youtube memutuskan untuk menutup fitur ‘Community Captions’ yang memungkinkan orang untuk mengunggah teks terjemahan pada video dianggap mempersempit peluang akses pada platform digital oleh kaum Tuli.

Media mainstream edukasi digital saat ini masih berfokus pada audio visual sehingga kaum Tuli sulit memahami informasi yang disampaikan. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved