Breaking News:

Berita Bali

Atasi Produk Cabai Busuk, Dosen Fisika Unud Bali Buat Pengering Berbahan Bakar LPG

Dosen Program Studi Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Udayana (Unud), membuat alat pengering cabai berbahan bakar gas LPG.

TRIBUN BALI/ I PUTU SUPARTIKA
Dosen Fisika Unud memperkenalkan alat pengering cabai berbahan bakar LPG di Banjar Sekartaji, Desa Sesandan, Tabanan - Atasi Produk Cabai Busuk, Dosen Fisika Unud Bali Buat Pengering Berbahan Bakar LPG 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Dosen Program Studi Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Udayana (Unud), membuat alat pengering cabai berbahan bakar gas LPG.

Alat yang dirancang para dosen ini ditawarkan dan diperkenalkan kepada petani di Banjar Sekartaji, Desa Sesandan, Tabanan, Bali.

Pengering cabai berbahan bakar gas LPG ini diharapkan dapat membantu petani memproduksi cabai kering, sehingga tidak ada cabai busuk karena saat musim panen produksi cenderung melimpah.

"Kelompok tani Sekarning Jati 80 persen di antaranya memilih membudidayakan tanaman cabai. Pada kondisi normal, hasil panen cabai petani berlimpah. Namun, di sisi lain, seringkali harga cabai biasanya cenderung turun," kata Ketua Tim Pengabdi Program Studi Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Udayana, I Gde Antha Kasmawan.

Baca juga: Fenomena Pengamen di Bali, Sosiolog Unud Minta Pemerintah Siapkan Skema Penyerapan Lapangan Kerja

Menurut Antha, secara prinsip teknik pengeringan merupakan upaya untuk mengurangi kadar air cabai, sehingga dapat memperlama daya simpan cabai dan dapat meningkatkan keawetannya.

Upaya ini diharapkan dapat membuat harga cabai menjadi lebih stabil di pasaran, sehingga baik konsumen maupun petani cabai tidak merasa dirugikan.

Antha mengungkapkan berdasarkan ujicoba alat, cabai rawit matang dan cabai rawit mentah mengalami penyusutan rata-rata masing-masing sebesar 80 persen dan 90 persen.

"Perbedaan warna produk cabai sangat kontas, produk cabai rawit merah berwarna cerah, sedangkan produk cabai rawit hijau berwarna kusam," katanya.

Selama proses pengeringan cabai, gas LPG yang dihabiskan rata-rata sebanyak 0,55 kg atau kalau diuangkan menghabiskan biaya sekitar Rp 3.300.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved