Denpasar

Pemkot Denpasar Soroti Penggunaan Limbah Masker Medis Untuk Beton, Dewa Rai : Harus Hati-hati

Selain itu untuk menggencarkan pemakaian masker Pemerintah setempat sendiri sering melakukan beberapa sidak penerapan prokes.

Tribun Bali/Rizal Fanany
Mahasiswa Teknik Lingkungan dan Teknik sipil melakukan proses daur ulang pengolahan limbah masker di Universitas Mahasaraswati, Denpasar, Sabtu 9 Oktober 2021. Pengolahan limbah masker dijadikan bahan campuran untuk beton dan paving blok bertujuan untuk mengurangi pencemaran lingkungan. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Penggunaan masker memang sudah diwajibkan sejak awal pandemi Covid-19.

Selain itu untuk menggencarkan pemakaian masker Pemerintah setempat sendiri sering melakukan beberapa sidak penerapan prokes.

Salah satunya Pemerintah Kota Denpasar di mana sering mengadakan yustisi, atau sidak penegakan prokes (protokol kesehatan).

Ketika dikonfirmasi Dewa Gede Rai selaku Kabag Humas Dan Protokol Pemerintah Kota Denpasar mengatakan penggunaan masker akan tetap dilakukan oleh masyarakat meski kasus positif Covid-19 sudah mulai menurun.

Sementara itu kasus Covid-19 sendiri sempat alami peningkatan di Provinsi Bali pada, Juli 2021 lalu, di mana kasus positif tembus hingga 4 digit per harinya.

Peningkatan kasus tersebut membuat penggunaan masker juga meningkat.

Baca juga: Resmi Dibuka, Grand Final Piala Presiden Esports 2021 akan Digelar di Nusa Dua Bali

"Peningkatan penggunaan masker hampir 90 persen pada saat itu, apalagi saat ini ada anjuran penggunaan masker double karena ada varian baru delta. Banyak juga saat ini yang menggunakan masker double apalagi kasus Covid-19 varian delta masih ditemukan," katanya pada, Sabtu (9 Oktober 2021).

Dewa mengatakan jika diukur penggunaan masker medis di masyarakat dengan berat kilogram, yakni dengan cara menghitung estimasi jumlah penduduk.

"Kalau kilogram ditimbang kita pakai jumlah penduduk. Katakanlah jumlah penduduk Kota Denpasar 900 ribu jiwa. Dan dalam sehari penggunaan masker hanya satu kali, lalu dikali sebulan dan dikalikan setahun sudah jutaan masker yang digunakan," tambahnya.

Pihaknya juga sudah mengimbau masyarakat dari awal agar mengolah masker bekas dipakai yang saat ini menjadi limbah rumah tangga. Biasanya masker- masker tersebut dibuang bercampur dengan sampah-sampah rumah tangga lainnya.

"Kita sudah imbau kepada jajaran kelurahan agar setelah selesai menggunakan masker memotong masker tersebut agar tidak disalahgunakan atau didaur ulang lagi dan digunakan lagi sebagai masker," paparnya.

Baca juga: Virolog UNUD Sebut Efektifitas Vaksin Dilihat Akhir Desember 2021, Awal Tahun Bye-bye COVID-19

Ia juga menyoroti, penggunaan limbah masker rumah tangga oleh mahasiswa Teknik Lingkungan dan Sipil Unmas (Universitas Mahasaraswati) Denpasar. Menurutnya, penggunaan limbah medis masker harus berhati-hati.

"Penggunaan limbah masker medis itu harus hati-hati dengan adanya Covid-19 varian baru tentunya berbahaya. Dan harus hati-hati mendaur ulang karena ada virus dan bisa saja digunakan oleh orang yang positif," sambungnya.

Walaupun masker- masker tersebut didapatkan dari sampah rumah tangga, Dewa mengatakan tetap harus waspada. Pasalnya kita tidak mengetahui apakah orang yang menggunakan masker tersebut terbebas dari Covid-19 atau tidak.

"Ya sama saja walaupun kita dapatkan masker tersebut dari rumah tangga kita kan tidak tahu apakah yang menggunakan masker tersebut orang yang sedang isolasi mandiri karena positif Covid-19. Bisa saja dirumah dia sedang Positif. Masker kan penahan virus Covid-19. Ya harus hati-hati kalau mengolah limbah tersebut. Harus ada perlakuan khusus untuk mengolah limbah-limbah tersebut. Seperti pada Rumah Sakit," tutupnya. (*)

Artikel Terkait COVID 19

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved