Breaking News:

Berita Tabanan

Supaya Tak Hanya Dijadikan Pakan Babi, FP Unwar Perkenalkan Teknologi Olah Talas Jadi Mie

pemilihan ubi talas sebagai bahan dasar mie merupakan upaya untuk memanfaatkan bahan lokal yang mudah didapatkan dan belum digunakan secara maksimal.

Editor: Noviana Windri
FP Unwar
FP Unwar Perkenalkan Teknologi Olah Talas Jadi Mie 

Suriati berharap pengolahan ubi talas menjadi mie dapat menambah pengetahuan ibu rumah tangga dalam menyiapkan berbagai olahan berbahan dasar talas.

Langkah ini juga diharapkan dapat menjadi sumber ekonomi bagi keluarga di Desa Baru, Marga, Tabanan.

Akademisi dari Faculty of Applied Sciences, Universiti Teknologi Mara (UiTM) Malaysia, Dr. Raseetha Vani memperkenalkan olahan roti berbahan ubi talas.

Salah satu tantangan selama ini dalam pemanfaatan ubi talas adalah adanya persepsi masyarakat terkait timbulnya rasa gatal usai mengkonsumsi talas.

Baca juga: Guna Tingkatkan Imun di Masa Pandemi, Peneliti Pertanian Unwar Kembangkan Minuman Aloe-Buni

Baca juga: Pemkab Klungkung Berharap MSP Unwar Bantu Kajian Akademis Pengembangan TOSS

Baca juga: PKM Unwar di Kintamani Bangli, Petani Jeruk Siam Didorong Mampu Produksi Buah di Luar Musim

“Apabila kulitnya dikupas dengan baik dan kita Kukus dengan baik tidak akan menyebabkan gatal apabila dikonsumsi.  Rasa gatal itu adalah persepsi masyarakat. Padahal ia mempunyai antioksidan yang mempunyai fungsi bagi kesehatan” papar Raseetha.

Sedangkan akademisi dari Faculty of Applied Sciences, UiTM,  Malaysia lainnya Dr. Aida Azmi memperkenalkan pemanfaatan ubi talas sebagai selai.

 Langkah ini diharapkan dapat memaksimalkan pemanfaatan ubi talas oleh masyarakat, sehingga difersifikasi pangan dapat dilakukan secara optimal.

Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Dharma Shanti, Eka Rahayuningsih, mengakui selama ini ubi talas cenderung dimanfaatkan sebagai pakan babi.

Produksi yang melimpah dan harga yang rendah menyebabkan masyarakat enggan untuk menjual ubi talas ke pasar.

“Masa panen terbuang, termasuk buat pakan babi saja. Bawa ke pasar dihargai dengan harga murah. Kalau kita bawa ke pengepul dihargai 2000 rupiah perkilo. Kalau sampai dibawa ke pasar, mungkin sampai 4000 rupiah” tutur Eka.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved