Breaking News:

Bali

Virolog UNUD Sebut Efektifitas Vaksin Dilihat Akhir Desember 2021, Awal Tahun Bye-bye COVID-19

Tim Pakar COVID-19 Nasional Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika mengatakan saat ini pihaknya tengah fokus memantau efektivitas vaksinasi COVI

tribun bali
Tim Pakar COVID-19 Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tim Pakar COVID-19 Nasional Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika mengatakan saat ini pihaknya tengah fokus memantau efektivitas vaksinasi COVID-19 hingga rentang waktu akhir Desember 2021 mendatang.

Menurut Prof Mahardika yang juga Virolog Universitas Udayana Bali itu pula, sejatinya waktu ideal pembukaan pariwisata internasional adalah pada Januari 2022 mendatang setelah melihat hasil efektivitas vaksinasi.

Akan tetapi, seiring dengan cakupan vaksinasi yang terus digenjot meningkat tampaknya berdampak pada kekebalan komunal (herd immunity) untuk melawan pandemi COVID-19 di wilayah Bali dengan berkaca pada penurunan kasus.

"Perkembangan terakhir sebetulanya saya personal dalam fase memantau efektivitas vaksin, kalau vaksin efektif, maka dalam bulan yang akan datang tidak ada letupan orang masuk RS dan meninggal dunia, itu dua indikatornya," ujar Prof. Mahardika dalam podcast Tribun Bali yang tayang pada Jumat 7 Oktober 2021.

Ia menjelaskan, bahwa vaksinasi baru digenjot pemerintah saat puncak lonjakan kasus sehingga efektifitas vaksin baru bisa dilihat pada akhir bulan Desember 2021 mendatang.

Baca juga: Buka Parisiwata Internasional, Bali Harus Jual Rasa Aman

"Sekarang kita fase memantau sebelumnya tidak bisa kenapa ? Karena kita menggenjot vaksin pada saat puncak-puncaknya sekarang saatnya melihat efektifitas vaksin, kalau itu terjadi, dan benar efektif, buka bali tanpa karantina, asumsi saya kita lihat jika data tidak meletup tinggi maka Januari kita bisa open tanpa karantina, bukan hanya buka Bali tapi bye-bye pandemi, virus ada tapi dampaknya jauh berkurang," ujarnya.

Terkait kesiapan obyek wisata, Prof. Mahardika mengingatkan kesiapan soal ruang terbuka dan ruang tertutup.

"Misal aktivitas di ruang terbuka di alam arung jeram, diving, resikonya rendah, yang tertutup seperti mall di ruangan tertutup, ber-AC, ventilasi tidak alami, di sana yang high risk," tuturnya.

Ia menyampaikan, penyakit atau pandemi bisa ditanggulangi dengan dasar ilmu pengetahuan yang baik dan benar, teknologi deteksi paling standar untuk COVID-19 ialah PCR.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved