Breaking News:

Berita Buleleng

Simpan Sejarah Zaman Kolonial Belanda, Setra Buleleng Akan Disulap Jadi Objek Wisata

Rumah pemantauan itu konon dibuat atas perintah raja Buleleng untuk memantau kapal-kapal yang datang di Pelabuhan Buleleng.

Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Suasana setra Desa Adat Buleleng. Setra ini dirancang menjadi salah satu objek wisata city tour 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Setra atau kuburan biasanya memiliki suasana yang menyeramkan. Namun susana berbeda dirasakan di Setra Desa Adat Buleleng.

Prajuru adat justru menyulap setra dengan luas mencapai 1.92 hektar ini menjadi objek wisata.

Dikonfirmasi melalui saluran telepon Minggu (10/10/2021) Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna mengatakan, setra Desa Adat Buleleng menyimpan sejarah pada zaman kolonial Belanda.

Hal ini dibuktikan dengan adanya bekas rumah pemantauan yang dibangun di atas pohon kepuh setinggi 20 meter,  yang tumbuh di areal setra Buleleng. 

Baca juga: Dishub Buleleng Fungsikan Kembali Bus Sekolah untuk Antar Jemput Siswa 

Rumah pemantauan itu konon dibuat atas perintah raja Buleleng untuk memantau kapal-kapal yang datang di Pelabuhan Buleleng.

"Jadi orang-orang gerilyawan ditugaskan oleh raja untuk memantau kapal-kapal yang datang di Pelabuhan Buleleng dari atas pohon kepuh itu. Di pohon itu juga ada sirinenya.

 Jadi kalau ada kapal Belanda yang datang, sirine akan dibunyikan sehingga pimpinan pasukan perang bisa menentukan apakah akan melakukan penyerangan, atau bersembunyi," ungkapnya.

Saat ini kata Sutrisna rumah pemantauan itu telah hancur dimakan usia.

Namun masih ada bekas baut yang melekat di pohon kepuh tersebut, yang nantinya akan dijadikan sebagai objek wisata oleh pihak desa adat. 

Tak hanya rumah pemantauan, Sutrisna juga menyebut di setra Desa Adat Buleleng terdapat satu kuburan yang juga diperkirakan dibangun pada zaman Belanda.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved