Breaking News:

Berita Gianyar

Bangunannya Dirobohkan, Krama Pakudui Kangin Gianyar Tegaskan Tak Lakukan Perlawanan Fisik

Bangunan milik krama Tempekan Pakudui Kangin dirobohkan Desa Adat Pakudui, krama mengaku tak akan melakukan perlawanan fisik

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Masyarakat Pakudui Kangin, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Bali, berkumpul di depan rumah saat bangunan mereka di lahan Desa Adat Pakudui dirobohkan, Rabu 13 Oktober 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Bangunan milik krama Tempekan Pakudui Kangin, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Bali, yang berada di tanah yang kini dikuasai Desa Adat Pakudui telah diratakan oleh Krama Desa Adat Pakudui, Rabu 13 Oktober 2021.

Mereka menilai ada pelanggaran kesepakatan damai yang dilakukan oleh pihak Desa Adat Pakudui atas perobohan bangunan tersebut.

Meski demikian, krama Pakudui Kangin mengaku tidak akan melawan secara fisik.

Sebab mereka menilai cara tersebut bukan tindakan bermartabat.

Tokoh Pakudui Kangin, I Wayan Subawa, yang juga Penyarikan Pura Puseh Pakudui mengatakan, sebelum perobohan bangunan dilakukan, pihaknya memang telah menerima somasi sebanyak tiga kali dari Desa Adat Pakudui.

Baca juga: Pembongkaran Bangunan Krama Pakudui Kangin di Tanah Desa Adat Pekudui Gianyar

Somasi terakhir diterimanya sekitar sepekan lalu, yang isinya pihaknya diminta untuk mengosongkan bangunan di tanah sengketa. 

Namun karena masih memegang teguh kesepakatan damai antara pihaknya dengan Desa Adat Pakudui, sehingga somasi itu tidak dilakukan.

Adapun dalam kesepakatan damai itu, kata dia, disebutkan bahwa selama awig-awig  atau Undang-undang Dasar Desa Adat masih berproses, maka tidak ada yang boleh menyentuh atau memanfaatkan lahan tersebut. 

"Beberapa hal perlu diketahui, dalam perdamaian itu disepakati akan merevisi awig-awig yang memasukkan lahan eksekusi ke dalam awig tersebut.

Rapat bulan Desember 2020 ada kesepakatan, tidak menyentuh lahan atau memanfaatkan objek eksekusi berdasarkan awig-awig yang akan dibuat.

Awig-awig masih berproses, tapi keburu eksekusi," ujar Subawa saat ditemui depan rumahnya, didampingi krama Pakudui Kangin.

Karena hal tersebutlah pihaknya tidak menanggapi somasi. Sebab pihaknya tidak ingin melewati batasan.

"Kalau melewati batasan kami rasa kurang elok. Kami mengacu pada kesepakatan itu saja," ujarnya.

Terkait apakah pihaknya akan melakukan upaya hukum jika menilai perobohan bangunan tersebut telah melanggar kesepakatan?

Subawa mengatakan masih menunggu kesepakatan krama Pakudui Kangin dan petunjuk dari pemerintah.

Baca juga: Baru Berdamai Akhir Tahun Lalu, Pemkab Gianyar Kembali Mediasi Warga Pakudui Tegalalang

"Kami tak mau terlalu jauh untuk melangkah dan kami tak mau keluar dari yang ditentukan pemerintah," tandasnya.

Subawa mengatakan, bangunan yang dirobohkan tersebut sudah dibangun sejak tahun 1990an.

Bahkan bangunannya sendiri berupa kios, di sana sudah didirikan sejak tahun 1994.

Meskipun demikian, ia menegaskan pihaknya tidak akan melakukan perlawanan fisik atas kerugian tersebut.

"Perlawanan fisik tidak ada. Kalau kami seperti itu, rasanya kurang elok.

Manusia dikasi budi, pikiran. Kalau dengan fisik, penyelesaiannya tidak ada," tandasnya.

(*) 

 
 

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved