Breaking News:

Sponsored Content

Komersialisasi Kebun Raya Bogor, Ini Komentar Pengamat Konservasi Sekaligus Menteri di Era Gus Dur

Pengamat konservasi Dr Alexander Sonny Keraf angkat suara soal kisruh penolakan edukasi wisata malam atau Glow di Kebun Raya Bogor (KRB).

Editor: Karsiani Putri
Istimewa
Edukasi wisata malam atau Glow di Kebun Raya Bogor (KRB). 

TRIBUN-BALI.COM, BOGOR - Pengamat konservasi Dr Alexander Sonny Keraf angkat suara soal kisruh penolakan edukasi wisata malam atau Glow di Kebun Raya Bogor (KRB).

Penolakan pengembangan wisata edukasi malam Glow di KRB terjadi lantaran sejumlah kalangan menilai bahwa KRB tidak boleh dikomersialisasikan.

Hal tersebut berangkat dari fungsi KRB sebagai pusat konservasi dan penelitian.

Pria yang akrab disapa Sonny itu menilai, apa yang dilakukan KRB dengan meluncurkan Glow merupakan sebuah terobosan yang luar biasa.

Dalam arti aset-aset milik pemerintah yang selama ini lebih sebagai cost center dilakukan inovasi manajemen dan tata kelola dengan bergandengan tangan dan bermitra dengan pihak swasta untuk menjadi profit center.

Hampir setiap negara melakukan riset juga untuk mendatangkan manfaat ekonomi.

Hal tersebut lantaran biaya konservasi dan riset membutuhkan anggaran yang cukup besar.

Dimana hampir setiap negara tidak akan sanggup membiayai riset dan konservasi.

"Kita ambil contoh, semua negara di dunia yang disebut sebagai knowledge basic economy, melakukan riset untuk kepentingan ekonomi. Sebaliknya ekonomi menyumbang terhadap kemajuan riset. Karena kalau tidak negara manapun tidak punya kemampuan untuk membiayai riset," katanya, Kamis 14 Oktober 2021.

Terobosan yang dilakukan melalui Glow ini sambung Sonny, tidak boleh berhenti hanya menjadi riset, tetapi riset harus diramu dan dikelola secara bisnis.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved