Breaking News:

Berita Bali

Melalui Buku ‘Bali Jadul’, Setiawan Gugah Ingatan Peristiwa Alam & Petuah Masa Lampau di Bali

Jurnalis media nasional asal Bali, I Putu Putra Setiawan, merilis karyanya dalam sebuah buku setebal 253 halaman yang mengulik apa yang terjadi di Bal

Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
I Putu Putra Setiawan (kanan) saat merilis buku Bali Jadul di Coffee and Spa C21, Denpasar, Bali, Kamis 21 Oktober 2021. - Melalui Buku ‘Bali Jadul’, Setiawan Gugah Ingatan Peristiwa Alam & Petuah Masa Lampau di Bali 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Jurnalis media nasional asal Bali, I Putu Putra Setiawan, merilis karyanya dalam sebuah buku setebal 253 halaman yang mengulik apa yang terjadi di Bali pada masa lampau sebagaimana judul bukunya "Bali Jadul" atau Bali Zaman Dulu.

I Putu Putra Setiawan yang akrab disapa Wawan ini memberi garis besar, buku ini merupakan refleksi terhadap petuah-petuah tetua Bali dan peristiwa bersejarah pada tahun 1950 an hingga 1970 an.

Buku ini merangkum sejumlah cerita tentang suara alam atau tanda-tanda sebelum terjadinya bencana alam, semisal pada tahun 1963 terjadi erupsi Gunung Agung yang dampaknya amat luas.

Buku tentang sejarah diterbitkan oleh Nilacakra yang disempurnakan oleh penulis Ida Bagus Arya Lawa Manuaba ini dirilis Wawan di Coffee and Spa C21, Denpasar, Bali, Kamis 21 Oktober 2021.

Baca juga: Yayasan Puri Kauhan Ubud Luncurkan Tiga Buku Sastra Saraswati Sewana

"Ini adalah buku sejarah pertama saya. Saya mengajak pembaca menengok sejumlah intisari di masa lalu. Petuah orang tua tentang kejujuran, tentang kerja keras dan banyak peristiwa masa lampau," ujarnya.

Buku "Bali Jadul" ini mengajak pembaca seolah-olah memasuki mesin waktu kembali ke Bali pada zaman dulu.

Lewat buku ini pembaca bakal mengetahui bagaimana kondisi alam Bali zaman dulu yang sebagian besar wilayahnya masih alami.

"Kita menjadi tahu bagaimana potret wajah kota-kota di Bali seperti Kota Singaraja, Karangasem, Klungkung, Badung, hingga Denpasar pada zaman dulu yang tentu sangat berbeda dengan kondisi "zaman now" atau saat ini," tuturnya.

Jurnalis yang pernah menjajaki lintas media ini menyampaikan, ada hal istimewa dalam penyusunan buku ini, lantaran justru sosok yang ia pilih sebagai narasumber dalam buku ini, yakni sang ayah, I Made Putra Suganda, yang bisa disebut orang biasa-biasa saja saat itu.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved