Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Denpasar

Pengerjaan Patung di Kawasan Heritage Gajah Mada Denpasar Sudah 80 Persen

Di kawasan Gajah Mada nantinya akan ada dua jenis patung buatan seniman Bali, yakni patung Ratu Mas Melanting dan Tri Semaya.

Tayang:
Tribun Bali / Harun Ar Rasyid
Kawasan Gajah Mada Heritage pada Kamis Pagi 20 Mei 2021 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sekitaran Pasar Badung yang berlokasi di Jalan Gajah Mada, Denpasar akan dijadikan kawasan heritage.

Di kawasan tersebut nantinya akan ada dua jenis patung buatan seniman Bali yakni patung Ratu Mas Melanting dan Tri Semaya.

Untuk patung Ratu Mas Melanting dibuat langsung oleh Putu Marmar Herayukti.

Sedangkan patung Tri Semaya dibuat oleh Komang Gede Sentana Putra atau yang akrab disapa dengan Kedux.

Kepada, Tribunbali.com Marmar mengatakan patung buatannya hampir rampung 80 persen. 

Baca juga: Penataan Gajah Mada Denpasar Sudah 45 Persen, Akan Ada Patung Digadang-gadang sebagai Ikon Baru

"Pembangunan patung itu sudah masuk di cetak master yang akan dicor logam jadi 20 persen lagi. Tinggal revisi-revisi minor saja, patung itu sudah dikirim ke Jawa Tengah untuk dicor logam. Jadi finishing patung ini adalah cor logam," ungkapnya pada, Jumat 22 Oktober 2021. 

Rencananya posisi patung tersebut akan diletakkan di tengah kawasan heritage Pasar Badung.

Pengerjaannya sesuai dengan jadwal yakni memakan waktu sekitar 5 bulan.

Pengerjaan patung tersebut sudah dimulai dari 3 bulan lalu. 

"Progres selesai di-instal itu tanggal 2 Desember 2021. Nantinya patung itu tinggi nya 4,5 Meter lebarnya mengikuti proporsinya. Kalau lebar bawahnya 180 Meter," tambahnya. 

Baca juga: Penataan Kawasan Gajah Mada Denpasar Sudah 45%, Hujan Belum Pengaruhi Progres Pengerjaan

Alasannya memilih membuat patung, Ratu Mas Melanting karena, menurutnya jika berbicara tentang pasar, nama Kotanya saja Denpasar yang artinya utaranya Pasar.

Jadi Puri pada zaman dahulu berada di sebelah Utara Pasar dan hitungannya mungkin Pasar Badung ini. 

"Kalau kita bicara tentang pasar, bukan sekadar tukar-menukar barang atau jual beli barang komoditi. Saya sempat buat penelitian kecil sebelum saya memulai tentang Melanting ini saya mulai mencari jejak kemaritiman."

"Jadi di mana gerbang-gerbang perdagangan dimulai, saya waktu itu datang ke Desa Julah, Buleleng. Saya buat grup diskusi bersama Profesor Ardika, beliau menjelaskan tentang bagaimana gerbang-gerbang pasar dan apa yang terjadi pada pasar," sebutnya. 

Lebih lanjutnya ia bercerita sebenarnya kegiatan di dalam pasar tidak hanya tukar-menukar barang, dalam pasar juga ada pertukaran bahasa, ide-ide kreatif dan pertukaran kebudayaan.

Maka di dalam pasar terdapat suatu elemen yang penting dalam kemasyarakatan.

Di mana ketika pasar hidup, perekonomian dan kebudayaan masyarakat akan terus berkembang.

Baca juga: Setelah Berkunjung, Menteri Perdagangan Ingin Pasar Badung Menerapkan SOP PeduliLindungi

"Prinsip Ratu Melanting ini kalau secara wujud sebenarnya beliau sudah selesai kalau ingin diwujudkan secara bentuk. Tapi secara prinsip yang ingin saya bangun atau ceritakan kembali karena prinsip masih ada sampai saat ini dan ingin saya kuatkan kembali bahwa dalam perdagangan, dalam kehidupan sekalipun kalau kita bicara kemakmuran ada beberapa elemen yakni yang pertama kesehatan," paparnya. 

Kesehatan sangat penting, dan dalam patung tersebut akan diceritakan di mana terdapat sebuah kekayaan yang isinya adalah tamba urip atau obat-obatan dalam kehidupan.

Elemen satunya yakni sangu urip yang artinya bekal atau uang untuk kehidupan tapi bisa juga diartikan ilmu pengetahuan. Itulah dua elemen penting yang ia sertakan dalam patung Ratu Mas Melanting. 

"Tapi prinsip yang paling penting bahwa dalam kegiatan perdagangan pelaku perdagangan, atau pun penjual transaksi dalam kehidupan ini akan terus berjalan. Itu ada beberapa hal yang penting diingat yakni jujur, adil, mutu. Siapa yang jujur, adil dan mutu dalam kehidupan ini akan mendapatkan intisari kemakmuran untuk kehidupan," katanya. 

Sementara itu, Kedux mengatakan patungnya pun sudah hampir rampung hingga 80 persen.

Patung Tri Semaya ini merupakan patung raksasa yang rencananya akan diletakkan di sisi kanan dan kiri jembatan Jalan Gajah Mada, Denpasar. 

"Tinggi patung Tri Semaya 3 meter. Selesainya targetnya barengan sih 6 Desember 2021 rencananya. Kan masih dibangunnya jembatan ini. Jadi patungnya mungkin lagi dua minggu sudah kelar nunggu jembatannya kering," kata, Kedux. 

Dalam proses pembuatan patung ini, Kedux tidak menemukan kendala yang berarti.

Kendala hanya pada pengiriman patung tersebut, di mana yang memerlukan muatan lebih karena berat patung yang mencapai 2 ton. 

"Mungkin nanti pas pengiriman saja ya soalnya patungnya kan patung solid tidak ada lubangnya di dalam, mungkin kendala di sana pengirimannya dari Gianyar. Karena patungnya sangat berat yakni 2 Ton. Mungkin lebih konsen mikirin pengiriman saja," lanjutnya. 

Kedux berharap lebih banyak lagi patung di Kota Denpasar.

Menurutnya jika tidak dilestarikan dari sekarang, wajah Denpasar atau Bali itu bisa sama dengan wajah kota-kota lainnya.

"Jadi karakternya kita gali lagi, kita bangkitkan lagi di zaman modern," tambahnya (*)

Berita lainnya di Berita Denpasar

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved