Breaking News:

Berita Gianyar

Konflik Desa Adat Jero Kuta Pejeng Berakhir, Kesepakatan Diteken di Taman Kantor Bupati Gianyar

Kesepakatan antara Prajuru Desa Adat Jero Kuta Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar bersama sejumlah warganya akhirnya ditandatangani

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Penandatanganan kesepakatan perdamaian dilakukan di taman kantor Bupati Gianyar, Jumat 22 Oktober 2021 - Konflik Desa Adat Jero Kuta Pejeng Berakhir, Kesepakatan Diteken di Taman Kantor Bupati Gianyar 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Kesepakatan antara Prajuru Desa Adat Jero Kuta Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar bersama sejumlah warganya akhirnya ditandatangani di taman kantor Bupati Gianyar, Jumat 22 Oktober 2021.

Kedua belah pihak terlihat saling berjabat tangan.

Bupati Gianyar, Made Mahayastra bersama Kapolres Gianyar, AKBP Made Bayu Sutha, dan pejabat lainnya tampak tersenyum menyaksikan perdamaian ini.

Selain Bupati dan Kapolres Gianyar, penandatanganan kesepakatan yang dilakukan kedua belah pihak juga disaksikan Ketua DPRD Gianyar I Wayan Tagel Winarta, Dandim 1616/Gianyar Letkol Inf Hendra Cipta, dan Sekda Gianyar I Made Gede Wisnu Wijaya.

Baca juga: Konflik Desa Adat Jero Kuta Pejeng Berakhir di Taman Kantor Bupati Gianyar, Berikut Poin Kesepakatan

Poin kesepakatan perdamaian itu yakni, Pertama, kedua pihak sepakat tanah sikut satak disertifikatkan atas nama Desa Adat Jero Kuta Pejeng.

Kedua, sepakat membatalkan sertifikat tanah teba yang menjadi obyek sengketa, sehingga status tanah tersebut kembali seperti semula tidak bersertifikat (dinolkan).

Ketiga, jika ada warga yang menginginkan pengajuan sertifikat terhadap tanah sebagaimana disebutkan pada poin 2 (dua) di atas, sepanjang memiliki bukti-bukti kepemilikan alas hak yang jelas dan sah, maka prajuru adat maupun prajuru dinas (Perbekel dan Kelian Dinas/Kaur Kewilayahan) tidak boleh menghalangi serta wajib memberikan pelayanan administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Keempat, Bupati Gianyar akan mengawal proses pensertifikatan dimaksud pada poin 3 (tiga), sehingga tahapan-tahapan pensertifikatan berjalan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kelima, dengan adanya kesepakatan poin 1 dan poin 2 di atas selanjutnya pihak I (pertama) bersedia mencabut laporan/pengaduan perihal pemalsuan surat yang dibuat oleh pelapor 1 (I Made Wisna), tanggal 21 Oktober 2020 dengan terlapor pihak II (kedua) dan laporan/pengaduan perihal pemalsuan surat yang dibuat oleh pelapor 2 (I Ketut Suteja), tanggal 24 Juni 2020 dengan terlapor pihak II (kedua) sehingga proses hukum bisa dihentikan.

Keenam, dengan adanya kesepakatan pada poin 1, poin 2 dan poin 5 tersebut, selanjutnya pihak II (kedua) bersedia mencabut sanksi adat yang dijatuhkan kepada pihak I (pertama), sesuai dengan Pararem Penepas Wicara Desa Adat Jero Kuta Pejeng No 03/KL KD/DAJKP/X/2021 tanggal 10 Oktober 2021 dan Pararem Penepas Wicara Desa Adat Jero Kuta Pejeng No 04/KL KD/DAJKP/X/2021 tanggal 10 Oktober 2021, sehingga status krama yang dikenakan sanksi kembali seperti semula tanpa dikenakan penanjung batu dan panyangaskara.

Ketujuh, setelah disepakati oleh kedua belah pihak dengan telah ditandatanganinya Surat Kesepakatan Bersama ini, maka surat ini dapat dipergunakan sebagai dasar untuk permohonan pencabutan laporan polisi dan pengaduan di Polres Gianyar, permohonan pembatalan sertifikat di Kantor BPN Kabupaten Gianyar dan pencabutan semua sanksi adat yang telah dikeluarkan oleh pihak II (kedua).

Kedelapan, melalui surat kesepakatan ini para pihak tersebut berjanji menaati semua kesepakatan dan apabila ada yang mengingkari maka akan bersedia dituntut sesuai dengan hukum yang berlaku.

Bupati Mahayastra pada kesempatan itu menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya khususnya kepada warga Desa Adat Jero Kuta Pejeng karena telah berkorban untuk Gianyar dan khususnya untuk Desa Pejeng.

“Hari ini adalah kemenangan kita semua. Hari yang sangat luar biasa. Semua di sini berkorban untuk Gianyar. Semua di sini mengalah secara pikiran, material, waktu, tenaga, emosi. Semua hanya satu kata untuk Gianyar dan untuk Pejeng,” kata Mahayastra. (*).

Baca juga: 3 Poin Kesepakatan Telah Disetujui, Penandatanganan Perdamaian Desa Adat Jero Kuta Pejeng Berproses

Kumpulan Artikel Gianyar

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved