Myanmar

Aung San Suu Kyi Bantah Dakwaan Penghasutan dalam Kesaksian Pertamanya di Pengadilan

Media pemerintah Myanmar tidak melaporkan perkembangan dalam sejumlah kasus hukum Suu Kyi.

Editor: DionDBPutra
AFP/KEMENTERIAN INFORMASI MYANMAR
Foto diambil 24 Mei 2021 dan dirilis Kementerian Informasi Myanmar pada 26 Mei 2021 menunjukkan Aung San Suu Kyi (kiri) dan Presiden Win Myint menjalani persidangan pertama mereka di Naypyidaw. 

TRIBUN-BALI.COM, YANGON - Pemimpin terguling Myanmar Aung San Suu Kyi membantah dakwaan penghasutan yang mengkhawatirkan publik.

Hal itu dia katakan dalam kesaksian pengadilan pertamanya di pengadilan.

Kesaksian itu berlangsung sejak kudeta 1 Februari 2021 yang menyeret Myanmar ke dalam kekacauan dan mengakhiri satu dekade reformasi demokrasi.

Demikian laporan media setempat, Selasa 26 Oktober 2021.

Baca juga: Utusan ASEAN untuk Atasi Krisis Myanmar Datangi Pemerintah Junta, Minta Akses Temui Aung San Suu Kyi

Baca juga: Setelah Dikudeta Kini Aung San Suu Kyi Dituntut Kasus Dugaan Korupsi Oleh Militer Myanmar

Mengutip tim pengacara, BBC Burma dan Myanmar Now melaporkan bahwa Suu Kyi membantah tuduhan penghasutan sehubungan dengan partainya yang mengeluarkan sepucuk surat pada Februari, yang meminta organisasi internasional tidak menjalin kerja sama dengan junta.

Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.

Media pemerintah Myanmar tidak melaporkan perkembangan dalam sejumlah kasus hukum Aung San Suu Kyi.

Satu-satunya sumber informasi publik tentang persidangannya adalah pengacaranya Khin Maung Zaw, yang mendapat perintah dari otoritas militer awal Oktober ini agar tidak berbicara kepada publik.

Perintah itu muncul setelah Khin Maung Zaw awal Oktober 2021m ini mengatakan Presiden terguling Myanmar Win Myint bersaksi di pengadilan bahwa militer berupaya memaksanya untuk menyerahkan kekuasaan beberapa jam sebelum kudeta 1 Februari 2021.

Junta militer itu juga memperingatkannya bahwa dia bisa dalam bahaya jika menolak perintah untuk bungkam.

Pengacara itu mengatakan Suu Kyi memintanya untuk mempublikasikan kesaksian Win Myint di hadapan publik, yang menjadi cerita pertamanya sebelum kudeta.

Suu Kyi ditahan di tempat yang dirahasiakan dan menghadiri persidangan pada Selasa 26 Oktober 2021 di pengadilan yang dibangun khusus di ibu kota Naypyidaw.

Perempuan berusia 76 tahun itu didakwa dengan serentetan pelanggaran, termasuk pelanggaran protokol kesehatan CovidD-19, kepemilikan radio dua arah secara ilegal, penerimaan suap berupa uang tunai dan emas batangan, penghasutan yang mengkhawatirkan masyarakat serta pelanggaran terhadap Undang-undang Rahasia Negara.

Tim pengacara membantah tuduhan-tuduhan tersebut, yang menurutnya "tidak masuk akal".

Peraih Hadiah Nobel Perdamaian itu memimpin pemerintahan sipil Myanmar setelah partai yang diusungnya menyapu bersih pemilu 2015, yang digelar setelah setengah abad kekuasaan militer berakhir. (antara)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved