Breaking News:

Berita Badung

Ketua PHRI Badung: Rata-rata Okupansi Hotel di Bali Saat Ini Hanya 20 Hingga 25 Persen

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya menanggapi terkait adanya peniadaan cuti bersama Natal

Tribun Bali/Agus Aryanta
Ketua PHRI Badung I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya 

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya menanggapi terkait adanya peniadaan cuti bersama Natal dan Tahun Baru.

Baca juga: Pemerintah Hapus Cuti Natal 2021 & Batasi Mobilitas Saat Libur Nataru, Ini Tanggapan Puan Maharani

Setelah Bali mengalami penurunan level PPKM, yakni pada level 2, mobilitas masyarakat terbilang kembali cukup tinggi. 

Baca juga: Tarif Tes PCR Turun Jadi Rp275 Ribu, Kunjungan Wisdom ke Bali Diprediksi Akan Meningkat 

Dan mungkin hal tersebut yang membuat Pemerintah mungkin mengkhawatirkan adanya euphoria perayaan Natal dan Tahun Baru yang membuat terjadinya kerumunan. 

"Kalau ini terjadi, sangat berpotensi untuk menjadi peningkatan kasus Covid-19. Nah ini masalahnya preventif, kita paham," ungkapnya pada Jumat 29 Oktober 2021. 

Walaupun terdapat pembatasan dan peniadaan hari libur, Rai meyakini akan tetap ada kunjungan wisawatan domestik dan wisatawan mancanegara, namun tidak akan banyak.

Ia juga memprediksikan dengan situasi seperti ini, kunjungan wisdom ini sentuh angka 15 ribu perhari. 

Baca juga: Calon Penumpang Pesawat Kini Wajib Tes PCR, Apa Bedanya dengan Antigen?

Baca juga: Pemerintah Hapus Cuti Natal 2021 & Batasi Mobilitas Saat Libur Nataru, Ini Tanggapan Puan Maharani

"Karena tetap mereka akan adakan liburan, walaupun tidak berbondong-bondong. Nah wisman ini, akan mulai November ini, kemungkinan antara 5.000 kunjungan per hari, sehingga bisa terkontrol," tambahnya. 

Saat ini pemerintah tengah concern untuk mencegah gelombang ketiga pandemi Covid-19 ini.

Karena Covid-19 ini belum berakhir, terlebih varian-varian baru dari virus tersebut masih akan terus bermunculan, sehingga perlu untuk melakukan tindakan preventif. 

"Selain dari kesehatan, pemerintah juga memerhatikan dari sisi ekonomi. Bagaimana ekonomi perlahan-lahan jalan, dan ekonomi bangkit. Jadi ibaratnya berlayar di antara dua pulau karang, jadi mesti hati-hati. Dua hal ini harus diseimbangkan karena nama Bali dipertaruhkan di mata dunia," paparnya. 

Baca juga: Meski Harga Turun, PHRI Badung Akui PCR Masih Jadi Kendala Wisatawan

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved