Breaking News:

Berita Bangli

Kendala Akses Jalur Darat, Hasil Panen Petani di Tiga Desa Wilayah Bangli Menumpuk

Disisi lain, kondisi ini justru berdampak pada hasil panen warga dari tiga desa yang tidak bisa dipasarkan, sehingga terjadi penumpukan

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Salah satu lahan pertanian warga di Desa Terunyan, Kintamani yang rusak pasca musibah tanah longsor. 

Kendati demikian, imbuh Sarma, sejak akses jalur darat terbuka seluruhnya pada Senin (19/10/2021), perlahan penumpukan produksi pertanian sudah mulai berkurang.

Sehingga untuk produksi bawang merah yang sempat menumpuk, saat ini hanya tersisa sekitar 40 hingga 50 ton yang belum dipasarkan.

"Setelah akses jalan terbuka itulah baru bisa dikeluarkan barangnya. Itupun mereka harus eksra hati-hati saat melintas," ungkapnya.

Lantas terkait upaya pemerintah dalam membantu pemasaran hasil produksi pertanian warga terdampak bencana, Sarma mengatakan yang terpenting adalah pembukaan akses jalan untuk mengambil hasil pertanian warga.

Baca juga: Perempuan Muda Asal Bangli Nekat Mengakhiri Hidupnya di Denpasar, Polisi Sebut Mengeluh Sakit Ini

Sementara disinggung penggunaan jalur danau, Sarma menjelaskan bisa dilakukan, hanya saja biaya angkutnya cukup tinggi.

"Selain itu, angkutan danau juga terbatas jumlahnya. Itu yang menyulitkan petani," tandasnya. (*)

Artikel lainnya di Berita Bangli

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved