Breaking News:

Berita Tabanan

Jembatan Vital Kebon Padangan-Munduktemu Tabanan Putus, Aktivitas Perekonomian Warga Terhambat

Sebuah jembatan gantung yang menghubungkan Banjar Galiukir Kelod, Desa Kebon Padangan dengan Banjar Kebon Jero Kangin, Desa Munduktemu, Kecamatan Pupu

Istimewa
Kondisi jembatan gantung yang menjadi akses vital warga Desa Kebon Padangan-Desa Munduktemu, Kecamatah Pupuan, Tabanan, putus Rabu 3 November 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Sebuah jembatan gantung yang menghubungkan Banjar Galiukir Kelod, Desa Kebon Padangan dengan Banjar Kebon Jero Kangin, Desa Munduktemu, Kecamatan Pupuan, Tabanan, Bali putus diterjang air bah atau air blabar saat hujan deras, Rabu 3 Nopember 2021.

Jembatan vital yang menghubungkan dua desa ini praktis mengakibatkan aktivitas perekonomian dalam hal ini pengangkutan hasil pertanian serta perkebunan warga sekitar jadi terhambat bahkan lumpuh.

Jika akan melalukan aktivitas pertanian, warga harus menempuh jarak sekitar 20 kilometer atau dengan waktu sekitar 40 menit menuju Kebon Padangan begitu juga sebaliknya. 

Baca juga: KPK Periksa Dewa Nyoman Wiratmaja Besok, Kasus Dugaan Suap Pengurusan DID Tabanan Tahun 2018

Perbekel Kebon Padangan, I Made Arif Hartawan menuturkan, jembatan vital yang menghubungkan dua desa ini kerap digunakan oleh warga setempat untuk akses pertanian dan perkebunan.

Praktis dengan putusnya jembatan gantung yang dibangun tahun 2000 silam ini membuat aktivitas perekonomian masyarakat tersendat.

Beruntung, tidak ada warga yang sampai terisolasi dengan putusnya jembatan ini.

"Kejadiannya kemarin (Rabu) karena diterjang oleh air bah di Tukad Yeh Ho ini," ungkap Made Arif saat dikonfirmasi, Kamis 4 November 2021 sembari menyebutkan panjang jembatan ini 24 meter dengan lebar 1,5 meter.

Dia melanjutkan, jika sebelumnya warga yang memanfaatkan jembatan gantung yang bisa digunakan untuk sepeda motor ini hanya memerlukan waktu sekitar 6 menit untuk menuju kebunnya.

Baca juga: Pelaku Asusila di Tabanan Divonis 15 Tahun Penjara, Sempat Berkelit dan Tak Mengakui Perbuatannya

Namun, ketika putus, masyarakat harus memutar haluan yang memakan waktu hingga 40 menit dengan jarak tempuh hingga sekitar 20 kilometer. 

"Kalau dulu dengan jembatan ini hanya 6 menit, tapi sekarang harus memutar, jadi menuju ke arah Desa Pupuan untuk mencapai Desa Munduktemu begitu juga sebaliknya. Lebih jauh jadinya dengan jarak sekitar 20 kilometer yang memakan waktu sekitar 40 menitan," ungkapnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved