Breaking News:

Berita Bali

Pakelem Agung Pamahayu Jagat di Denpasar, Diharapkan Keseimbangan Alam Tetap Terjaga

Pakelem berasal dari kata ‘kelem’ yang dalam kamus Bali-Indonesia, berarti tenggelam. Sehingga pakelem diartikan, sesuatu yang ditenggelamkan di laut

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Karya agung upacara pakelem agung pamahayu jagat lan pamelastian ida ratu bhatara-bhatari Puri Tegal Denpasar Pamecutan bersama semeton, PHDI, Pemkot Denpasar, dan stakeholder terkait. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sejak zaman dahulu, tradisi adat mapakelem memang telah dilakukan oleh umat Hindu di Bali dan bahkan Nusantara.

Pakelem berasal dari kata ‘kelem’ yang dalam kamus Bali-Indonesia, berarti tenggelam. Sehingga pakelem diartikan, sesuatu yang ditenggelamkan di laut, danau, ataupun gunung sebagai bagian dari ritual upacara keagamaan.

Pakelem biasanya dilakukan, untuk menjaga keseimbangan alam semesta beserta isinya.

Untuk itu, Pasemetonan Ageng Puri Tegal Denpasar Pamecutan dikomandoi Dr. Anak Agung Ngurah Manik Danendra, S.H., M.H., M.Kn., selaku tokoh sentral Puri Tegal Denpasar Pamecutan, menggelar karya agung upacara pakelem agung pamahayu jagat lan pamelastian ida ratu bhatara-bhatari Puri Tegal Denpasar Pamecutan.

Baca juga: Pemprov Bali Gelar Aci Pakelem Hulu Teben, Ini Lima Titik Pusat Upacaranya

Acara ini dilakukan di Pantai Matahari Terbit, Sanur, Denpasar, bertepatan dengan Tilem Kalima, Kamis 4 November 2021.

Hadir dalam upacara tersebut, Walikota Denpasar, IGN Jayanegara, Ketua PHDI Bali Gusti Ngurah Sudiana, H. Bambang Santoso, serta beberapa tokoh penting lainnya, termasuk keluarga puri.

Menurut Agung Manik Danendra yang akrab disapa AMD, upacara pakelem pemahayu jagat ini adalah permohonan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta manifestasi beliau dalam wujud Bhatara Baruna. Agar memberi anugerah keselamatan jagat, serta karahayuan jagat.

Khususnya di masa pandemi saat ini, agar pandemi Covid-19 segera mereda bahkan hilang. Sehingga Bali dan Nusantara, bahkan dunia bisa bebas dari gering agung akibat Covid-19 ini.

Upacara ini pula, merujuk dari lontar Widhi Sastra Roga Sanghara Gumi, yang ditulis oleh Bhagawan Darmaloka di era kerajaan Majapahit.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved