Berita Bali
Rumah Sakit Rujukan Covid-19 di Bali Siap Antisipasi Bila Ada Lonjakan Kasus saat Libur Nataru
beberapa Rumah Sakit rujukan Covid-19 di Bali juga telah bersiap jika ada lonjakan kasus pasca liburan Natal dan Tahun Baru
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Wema Satya Dinata
Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Pemerintah akan menerapkan PPKM Level 3 jelang liburan Natal dan Tahun Baru 2022 (Nataru).
Tentunya kebijakan tersebut untuk mencegah naiknya kasus positif Covid-19 kembali.
Sementara itu, beberapa Rumah Sakit rujukan Covid-19 di Bali juga telah bersiap jika ada lonjakan kasus pasca liburan Natal dan Tahun Baru.
Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya mengatakan gelombang ketiga bisa terjadi kapan saja.
Baca juga: BOR Isolasi Covid-19 untuk Semua Rumah Sakit di Denpasar Rata-rata 3,40 Persen
"Gelombang berikut bisa terjadi kapan saja, kita tidak tahu karena virus bisa bermutasi. Tapi kita berharap tak terjadi.
Saya khawatir kalau ada kerumunan ya. Karena bisa saja virus masih ada dan buktinya ada yang kena tiap hari. Karena kekebalan turun bisa kena," ungkapnya pada, Minggu (21 November 2021).
Yang paling dikhawatirkan yakni pada tenaga kesehatan.
Ia mengimbau jangan sampai terulang kembali kejadian di Gelombang kedua dimana, banyak faskes dan nakes yang kewalahan menangani pasien dan langkanya oksigen.
"Kita berharap tak terulang lagi (gelombang Covid-19), kejadian lalu jadi pembelajaran. Bagaimana caranya agar jangan sampai abai.
Vaksinasi sangat penting dan bukan segalanya. Prokes harus ketat. Jangan sampai ada gelombang lagi," tambahnya.
Sementara itu beberapa Rumah Sakit sudah mempersiapkan jika nantinya ada gelombang ketiga pasca libur Nataru 2022.
Salah satunya adalah RSUP Sanglah Denpasar. Sebagai Rumah Sakit rujukan di Bali dan Nusa Tenggara (Nusra), RSUP Sanglah memastikan kesiapan untuk menangani lonjakan kasus.
Ketika dikonfirmasi, Kasubag Humas RSUP Sanglah, Dewa Kresna, mengatakan dengan sistem yang sudah terbangun di RSUP Sanglah, ketika kecenderungan kasus meningkat, otomatis jumlah ruangan untuk penanganan akan menyesuaikan.
"Meski saat ini kasus sudah melandai, yang mana jumlah bed tersedia sebanyak 24 bed, namun bila kasus melonjak, dengan sistem yang sudah terbangun, otomatis jumlah ruangan akan menyesuaikan," kata Dewa Kresna.
Baca juga: Kasus Sembuh dan Kasus Positif Covid-19 di Kota Denpasar Sama-Sama Bertambah 3 Orang
Lebih lanjut dikatakan, seperti yang terjadi saat gelombang kedua sebelumnya, pertambahan ruang sesuai dengan perkembangan kasus. Bahkan saat lonjakan kasus, penambahan bed terbanyak sempat mencapai 302 bed.
Melihat lonjakan kasus pada gelombang kedua yang cukup banyak, pihaknya mengimbau masyarakat agar jangan lengah.
Selalu perhatikan protokol kesehatan (Prokes) untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.
"Masyarakat jangan lengah, tetap semangat dan optimis, yakinlah pandemi ini pasti berlalu dan tetap menjaga prokes dan optimal," imbuhnya.
Sedangkan, Direktur Rumah Sakit Universitas Udayana Dr. dr. I Dewa Made Sukrama, menyatakan untuk saat ini, penanganan kasus Covid-19 di RS Unud, sudah menunjukkan perkembangan sangat luar biasa.
Sejak tiga hari lalu, di RS Unud, tidak ada lagi menangani pasien Covid-19.
Pasalnya dari data yang dimiliki, total 80 bed yang disediakan, jumlah pasien sampai saat ini tercatat 0 atau kosong.
Meski demikian, pihaknya di RS Unud,selalu siap untuk antisipasi lonjakan, tidak hanya siap dengan ruangan dan tenaga medis yang saat ini dimiliki, nama, sewaktu-waktu bila diperlukan, ruangan maupun kebutuhan tenaga medis, akan diatur sesuai peningkatan kasus.
"Bed siap selalu di gedung 6, yang selalu siap bila terjadi lonjakan. Total ada bed 80, dengan tenaga medis dokter spesialis penyakit dalam, Paru dan intensif. Begitu juga Perawat yang kita punya ada 100 lebih," paparnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/gedung-6-rumah-sakit-rsptn-universitas-udayana-yang-dibangun-untuk-pelayanan-khusus.jpg)