Breaking News:

Berita Denpasar

40 Kartun Dipamerkan di Pameran Bali Bangkit 2021, Ungkap Kondisi Masyarakat Saat Pandemi Covid-19

Sebanyak  40 karya kartun dari 12 kartunis ditampilkan dalam pameran Kartun dan Kartunis “Bali Bangkit 2021” di Taman Budaya Art Centre Denpasar.

Penulis: Putu Supartika | Editor: Karsiani Putri
Istimewa
Pelaksanaan pameran kartun di acara Pameran Bali Bangkit yang diselenggarakan di Taman Budaya Art Centre Denpasar. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Sebanyak  40 karya kartun dari 12 kartunis ditampilkan dalam pameran Kartun dan Kartunis “Bali Bangkit 2021” di Taman Budaya Art Centre Denpasar.

Para kartunis ini, yakni Jango Paramartha, Gus Martin, Wied N, Pingky Sinanta, Agus Yudha, Putu Ebo Supardhi, Nyoman Mayartayas, Anang Jatmiko, Klesuma T, Yere Agusto dan Tusuaria.

Salah satu kartunis, Jango Paramartha mengatakan, pameran kartun ini diselenggarakan pada 25 November hingga 24 Desember 2021 mendatang.

Karya-karya yang ditampilkan mengungkap kondisi masyarakat saat pandemi Covid-19. 

Baca juga: 37 Siswa dan Guru Peserta PTM di Denpasar Positif Covid-19, 19 Sekolah Hentikan PTM Sementara

Baca juga: Sidak Masker di Tonja Denpasar, 56 Pelanggar Terjaring, 20 Orang Didenda Masing-masing Rp 100 Ribu

Baca juga: Tradisi Ngerebong di Pura Petilan Kesiman Denpasar, Kami Tak Berani Ngubeng Seperti Sebelumnya

“Berbagai sektor terdampak, sisi-sisi kehidupan serba terbatas, banyak dijadikan topik oleh teman kartunis. Diantaranya, ilustrasi belajar secara daring, upacara juga berlangsung virtual. Banyak momen menarik yang dituangkan dalam kartun secara humor namun isinya tetap kritis dan menghibur,” kata Jango.

Adapun upaya yang akan dilaksanakan selanjutnya, yakni bagaimana mempromosikan para kartunis yang saat ini berada di bawah organisasi Balica (Bali Cartoonist Asosiasi) semakin bergeliat lagi.

Baca juga: Dewan Minta Pemkot Perluas Parkir, Proyek Penataan Kawasan Jalan Gajah Mada Denpasar

Baca juga: Sidak Masker di Tonja Denpasar, 56 Pelanggar Terjaring, 20 Orang Didenda Masing-masing Rp 100 Ribu

“Dengan tempat yang baik, ada tempat teman-teman kumpul diskusi, memudahkan kita dalam menyusun agenda secara rutin setiap minggu, semisal menyelenggarakan workshop atau pameran tunggal,” katanya.

Sementara, Putu Ebo menambahkan, selama ini, ruang atau tempat para seniman kartun tidak pernah ada. 

Kartunis dengan nama lengkap I Gusti Putu Hadi Supardhi mengakui momen ini dijadikan motivasi.

“Regenerasi kita mentok di tengah pudarnya pegiat kartunis, terkadang ada mahasiswa ingin belajar kartun tapi tidak ada tempat kumpul,” katanya.

Ebo mengatakan, di Bali, kartun mengalami masa jaya pada tahun 1980-an hingga 2000.

“Tahun 2005-2009, Bali menjadi pusat kartunis Indonesia (pakarti), dipimpin Jango Paramartha, jadi sudah lama kartunis kita mengalami penurunan,” katanya.

Ebo menambahkan kartun berkaitan kuat dengan jurnalisme, dan masih efektif ditampilkan sebagai salah satu alat ilustrasi.

“Kita ingin menghidupkan wacana, buat penerbitan, apalagi dunia digital saat ini situasi berbeda dalam mem-publish. Di luar dijadikan ensiklopedi pakai kartun, belajar sejarah pakai kartun, belajar fisika jadi kartun menjadi media yang menarik untuk dikembangkan,” katanya.

(*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved