Corona di Indonesia

Status PeduliLindungi Berubah Hitam Selama Masa Karantina

Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran virus corona, terutama varian Omicron yang kini sudah menyebar luas di sejumlah negara

Editor: DionDBPutra
Tribun Bali/Putu Supartika
Barcode PeduliLindungi. Pemerintah terus memperketat karantina bagi setiap orang yang melakukan perjalanan ke luar negeri. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA -  Pemerintah terus memperketat karantina bagi setiap orang yang melakukan perjalanan ke luar negeri.

Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran virus corona, terutama varian Omicron yang kini sudah menyebar luas di sejumlah negara

Salah satu upaya yang akan dilakukan pemerintah adalah mengubah status di aplikasi PeduliLindungi menjadi hitam. Perubahan status itu akan berlangsung selama pelaku perjalanan menjalani masa karantina sepulang dari luar negeri.

Baca juga: Taiwan Konfirmasi Kasus Pertama Varian Omicron, Dibawa Pelancong dari Luar Negeri

Baca juga: Badan Keamanan Kesehatan Inggris Ungkap Vaksinasi Booster Bisa Lindungi Pasien Omicron Hingga 75%

”Salah satu kebijakan yang akan dilakukan adalah mengubah status PeduliLindungi pelaku perjalanan luar negeri menjadi hitam selama periode karantina,” kata Menteri Koordinator Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan dalam jumpa pers virtual, Senin 13 Desember 2021.

Meski kasus Covid-19 di Indonesia saat ini cenderung landai, masyarakat diminta tetap waspada.

Menurut Luhut, kesalahan sekecil apapun bisa membawa Indonesia kembali ke masa kelam beberapa waktu lalu, saat terjadi ’badai’ Covid-19.

”Di tengah euforia masa Natal dan Tahun Baru yang akan datang, saya terus mengimbau masyarakat untuk terus mengingat dan mawas diri bahwa pendemi Covid-19 ini belum usai. Kita tidak pernah tahu, hanya karena kesalahan kecil kita akhirnya bisa mengulang masa kelam seperti beberapa bulan lalu," kata Luhut.

Karena itu Luhut mengimbau masyarakat untuk tidak bepergian ke luar negeri. Ia menyebut penyebaran varian Omicron di negara lain sudah meluas, meski di Indonesia varian tersebut belum ditemukan.

”Saya sekali lagi mengimbau kurangi dulu pergi ke luar negeri karena tingkat Omicron sudah sangat luas di luar negeri. Kita bersyukur Indonesia sampai hari ini belum ada Omicron," ujar Luhut.

”Penambahan kapasitas wisma dan hotel karantina untuk mengantisipasi peningkatan jumlah orang yang dikarantina. Kebijakan karantina pelaku perjalanan luar negeri ini akan terus dievaluasi sesuai perkembangan varian Omicron. Pemerintah mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak pergi ke luar negeri terlebih dahulu kecuali untuk kepentingan yang benar-benar urgent,” ujarnya.

Luhut meminta imbauan tidak berlibur ke luar negeri ini disosialisasi ke masyarakat luas. Ia tak ingin jika nantinya ada orang yang datang ke Indonesia dari luar negeri keberatan dengan aturan karantina 10 hari di dalam negeri.
”Nanti jangan datang dia kena karantina 10 hari ngomel-ngomel, dah dia harus karantina 10 hari. Itu kita pastikan orang yang datang berlibur keluar, kita pastikan dia dapat (karantina) 10 hari," tegasnya.

"Kita nggak mau negeri kita ini dicederai, dicemari oleh Covid yang lain gara-gara kita sendiri tidak disiplin," imbuh Luhut.

Luhut juga menegaskan bahwa semua orang harus patuh terhadap aturan karantina yang diterapkan Indonesia. Bila ada yang ngeyel, orang itu bakal diceburkan ke karantina terpusat.

"Kemarin ada upaya-upaya melarikan itu, kita akan langsung ceburin aja masuk ke dalam karantina terpusat," kata Luhut. Ketegasan dalam penerapan peraturan karantina kini diperlukan untuk menjaga hasil kerja keras untuk melandaikan kurva pandemi Covid-19.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved