Breaking News:

Sponsored Content

Demi Ketahanan Pangan, Pengembangan Energi Baru Terbarukan untuk Kemandirian Bangsa

Dwi menyampaikan ketahanan pangan tidak sekadar budidaya melainkan harus mengimplementasikan teknologi secara berkelanjutan dan signifikan hasilnya.

Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
Ketua Dewan Penasehat PII Jatim M. Ridwan Hisyam memberikan semangat dan arahan kepada Dwi Satriyo dan seluruh delegasi Jawa Timur untuk memegang teguh amanah PII Jawa Timur memenangkannya. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Kepemimpinan teknologi dalam bidang ketahanan pangan menjadi visi utama Ir Dwi Satriyo Annurogo MT IPU satu kandidat kuat dari enam Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) periode 2021-2024 dalam kongres ke-XXII yang digelar di Bali Nusa Dua Convention Centre, Badung, 16-18 Desember 2021.

Kepada Tribun Bali, Dwi menyampaikan ketahanan pangan tidak sekadar budidaya melainkan harus mengimplementasikan teknologi secara berkelanjutan dan signifikan hasilnya.

"Harus ada teknologi mulai dari hulu sampai hilir, panen dan pengolahan. Bangsa yang mandiri tidak sekedar pertumbuhan ekonominya naik, GDP (Gross Domestic Product) tinggi, tapi yang tak kalah penting adalah kemandirian bangsa, maju dan mandiri menjadi bangsa yang menguasai teknologi, saya punya visi untuk itu, supaya Indonesia maju dan mandiri," kata Dwi dijumpai di sela event Kongres PII di Bali Nusa Dua Convention Centre, Badung, Jumat 17 Desember 2021.

Manfaat teknologi ketahanan pangan, dijelaskan Dwi yang saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Petrokimia Gresik sejak tahun 2020 itu, berimplikasi mulai dari riset teknologi perbenihan, irigasi, pupuk, pemetaan tanah hingga mampu meningkatkan nilai tukar petani.

Baca juga: Revolusi Industri 4.0, Persatuan Insinyur Indonesia Harus Dorong Tumbuhnya Riset dan Inovasi  

"Kita harus bisa menciptakan riset teknologi perbenihan yang maju sesuai dengan karakteristik Indonesia. Tidak hanya benih saja, teknologi tidak hanya irigasi konvensional kita bisa menerapkan drip irrigation teknologi irigasi yang efektif, efisien dan optimal," kata pria kelahiran Lawang 13 Desember 1967 itu.

"Terkait pupuk harus mengembangkan pupuk efisiensi tinggi, harus ada teknologi slow release pupuk untuk tanaman tertentu dan formulasi disesuaikan. Pemetaan terhadap tanah, kualitas tanah sehingga pupuk yang digunakan cocok, masalah pestisida insektisida yang mengarah ramah lingkungan dan didapatkan hasil signifikan," kata Dwi.

"Panen juga demikian, mekanisasi teknologi hasil pengolahan panen sehingga nilai tukar petani meningkat berlipat, menggairahkan petani meningkatkan hasil pertanian, teknologi diperlukan," kata ayah dua anak itu.

Disinggung terkait solusi harga cabai yang tembus hingga Rp 100 ribu per kg karena gagal panen lantaran cuaca ekstrem, rupanya Dwi telah menyiapkan antisipasi untuk hal itu kedepannya.

"Mengarah ke situ, ada teknologi menyesuaikan cuaca, musim diintegrasikan dengan kondisi tanah dan daerah, ada data series untuk musim anomali cuaca, bisa terekam dan teknologi bisa diantisipasi. Perencanaan budidaya tanaman terintegrasi menyesuaikan dengan kondisi musim. Teknologi bisa untuk menjangkau itu," ujar Dirut PT Perkebunan Nusantara X (2017-2020) dan Dirut PT Perkebunan Nusantara XI (2020) itu.

Ia siap mengemban jabatan dan menerima amanah sebagai Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dalam kongres ke-XXII yang digelar di Bali Nusa Dua Convention Centre, Badung.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved